Monday, August 1, 2011

KISAH-KISAH PENGAJARAN DALAM ISLAM

BAYI BERBICARA

Orang-orang lalu datang berduyun-duyun, dan jauh dan dekat, ingin menyaksikan sendiri kabar yang luarbiasa itu. Mariam dihujani orang ramai dengan pertanyaan-pertanyaan. Dia tidak menjawab, hanya berkata sebagai apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadanya, bahawa dia berpuasa dan bernazar tidak akan bercakap-cakap sehari itu.
Berbagai-bagai kata orang ramai tentang Mariam dan kejadian itu. Ada yang amat hairan atas keluarbiasaan kejadian itu. Ada pula memandang kejadian itu sebagai tanda kesucian dan kebesaran Mariam. Tetapi banyak pula yang mengejek-ejek dengan pelbagai tuduhan sebagai yang telah dikhuatirkan Mariam sendiri. Semuanya itu didengarkan dan dibiarkannya saja dengan sabar dan tenang, sesuai dengan petunjuk Tuhan kepadanya.
Keesokan harinya, mereka pun datang pula bertanyakan ini dan itu, mengatakan apa yang terasa dalam hati dan batin mereka masing-masing. Mereka tahu bahawa nazar Maryam sudah habis waktunya. Berbagai-bagai cara dan isi pertanyaan mereka. Ada yang bertanya: Hai Mariam, sesungguhnya engkau telah membawa sesuatu yang mungkar!
Ada pula yang mengejek: Hai saudaranya Harun, bapamu bukanlah orang yang jahat, sedang ibumu pun bukan perempuan jalang! Dari manakah engkau perolehi anak ini?
Banyak lagi pertanyaan yang mengejek dan kasar-kasar yang dihadapkan kepada Mariam. Akhirnya Maryam berdiri mengambil anak bayinya, lalu berkata kepada mereka: Ini adalah anakku, tanyakanlah kepadanya hakikat kejadian yang sebenarnya, yang tuan-tuan tanyakan itu.
Orang ramai hairan dan tercengang mendengarkan jawapan Mariam yang tidak masuk akal itu. Mereka lalu berkata: Bagaimana kami dapat berbicara dengan bayi yang masih dalam ayunan itu?
Mendengar ejekan yang berturut-turut itu, lalu Allah memperlihatkan kekuasaanNya untuk mukjizat yang sebesar-besarnya bagi bayi yang bernama Isa al-Masihi itu dikala besarnya. Di saat itulah bayi Isa a.s. yang masih kecil itu berkata dengan terang kepada orang banyak: Sesungguhnya aku ini seorang hamba Allah, akan diberinya kepadaku sebuah Kitab (Injil) dan dijadikanNya aku seorang Nabi. DijadikanNya aku seorang yang berguna buat manusia dimana aku berada, diwasiatkanNya kepadaku berbuat dan mengerjakan sembahyang dan mengeluarkan zakat selama aku hidup. Dan aku berbakti kepada ibuku, tidaklah aku dijadikan Tuhan seorang yang sombong dan derhaka. Selamatlah diriku ketika aku dilahirkan dan ketika aku mati dan ketika aku kembali hidup.
Barulah sebahagian orang ramai itu insaf dan percaya, yakin akan kesucian Mariam, akan kebesaran dan keagungan bayi yang baru lahir itu. Khabar kesucian dan keagungan bayi itupun tersiarlah ke mana-mana, sehingga setiap orang menunggu-nunggu akan besarnya anak itu, sebagai seorang Utusan Allah (Rasul) buat mereka.Nabi Isa al-Masihi yang dipopularkan orang Kristian dengan nama Jesus Kristus itupun makin sehari makin besar juga. Di kala dia masih berupakan seorang anak yang di bawah umur, telah banyak tampak tanda-tanda kebesaran dan keluarbiasaannya.
Pada suatu hari, ketika Isa sedang bermain-main dengan teman-teman sebayanya, tiba-tiba Isa menerkai semua apa yang disimpan dalam poket seluar dan dirumah mereka masing-masing, dengan tekaan yang tepat dan tidak salah sedikit juga.
Kadang-kadang Isa berlaku sebagai guru terhadap teman-teman sebayanya itu, mengajarkan apa-apa yang mereka itu semua tidak mengetahuinya. Semua temannya itu menurut dan patuh terhadap ajaran Isa. Masing-masing memperhatikan sebaik-baiknya setiap kata dan nasihat yang keluar dari mulut Isa.
Ketika Isa sudah berumur 12 tahun, ibunya membawa beliau meninggalkan dusun yang jauh terpencil itu, berangkat pindah ke kota Baitul Maqdis (Jerusalem). Di jalan banyaklah pemandangan baru yang belum pernah dilihat didesanya sendiri. Tetapi Isa tinggal tenang saja melihat pemandangan yang baru itu, tidak menarik hatinya sedikit juga sebagai kebanyakan anak-anak yang seumur dengan dia. Lebih-lebih lagi ketika memasuki kota besar Jerusalem menempuh jalan-jalan besar, rumah-rumah yang bagus dan menarik hati. Tidak satu pun yang menarik perhatian Isa, kesemuanya itu dipandangnya sebagai barang-barang yang biasa saja, tidak baru sedikit juga dalam pandangan mata dan hatinya. Inilah pula salah satu keluar-biasaan Isa dibanding dengan anak-anak lainnya.
Ibunya lalu pulang ke desa kembali, sedang Isa tetap tinggal dikota Baitul Maqdis, kota yang penuh dengan pendita dan tempat-tempat ibadat, sebagai pusaka dan doa Nabi Ibrahim dahulu.
Setiap hari, orang ramai berduyun-duyun datang ke gereja-gereja menerima pelajaran agama yang diberikan pendita-pendita. Isa pun turut serta orang ramai itu, mendengar pelajaran dan fatwa-fatwa itu. Bahkan inilah yang paling digemari Isa, lain-lain pekerjaan dan permainan tidak satu pun yang menarik hatinya dan dia tidak pernah turut berbagai-bagai keramaian dan permainan itu.
Tiap-tiap kata fatwa yang keluar dan mulut pendita-pendita didengarkannya dengan penuh perhatian dan sungguh-sungguh. Berbeza dengan orang ramai yang juga turut belajar dan mendengar fatwa itu, dimana umumnya mereka itu hanya menerima dan tunduk saja terhadap semua fatwa dan kata-kata itu, maka Isa bukan hanya tunduk dan menerima mentah-mentah saja tetapi kalau perlu bertanya dan membantah mana yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Isa di antara murid-murid yang pertama-pertama kali berani bertanya dan membantah, sedang murid yang lain seorang pun tidak pernah bertanya, apalagi akan membantah.
Melihat keberanian dan perbuatan Isa itu, tidak sedikit kawan-kawan dan orang ramai yang menaruh sakit hati dan marah kepadanya dan menganggap dia seorang yang pembantah dan penyangkal, tidak tunduk kepada pendita-pendita yang dihormati dan dimuliakan orang. Bahkan sudah menjadi tabiat manusia di saat itu, bahawa pendita-pendita itu adalah orang suci, orang-orang yang benar semua kata-katanya, tidak boleh dibantah atau ditanyai samasekali, sebab orang yang bertanya dan membantah itu dianggap telah melanggar agama, telah engkar dan kafir layaknya.
Bukan hanya orang ramai saja yang marah kepadanya, tetapi juga pendita-pendita sendiri, sebab memang pendita-pendita itulah yang melarang orang bertanya dan membantah, serta mengajarkan bahawa sesiapa yang membantah dan bertanya itu, adalah orang engkar dan musuh Tuhan.
Beratus-ratus tahun lamanya, pendita-pendita itu tidak pernah dibantah dan disoal orang, sehingga telah menjadi adat turun-temurun bagi orang banyak yang hanya mendengar, tunduk dan diam dihadapan mereka. Sebab itu, tidak hairanlah kalau hal itu dianggap orang ramai sebagai ajaran agama, ketetapan syariat yang tidak boleh dilanggar samasekali.
Isa tidak menghiraukan kemarahan orang ramai itu, tidak peduli sekalipun pendita-pendita itu sendiri sakit hati kepadanya, namun Isa tetap membantah dan bertanyakan apa-apa yang tidak terang atau yang berlawanan dengan pendiriannya.
Demikianlah halnya Isa bertahun-tahun asyik belajar, asyik bertanya dan membantah tiap-tiap fatwa yang tidak sesuai. Dia lupa segala-galanya, kadang-kadang dia lupa makan dan minum, lupa terhadap ibunya sendiri yang sudah lama ditinggalkannya.
Dia bukan hanya tetap dalam kota Baitul Maqdis saja, tetapi juga pergi ke tempat-tempat yang jauh, didalam dan diluar kota, dimana saja ada pendita. Masing-masing pendita yang dia kenal dan dengar, sekalipun jauh tempatnya, pasti dia datangi untuk belajar dan menerima fatwanya, pula untuk ditanya dan dibantahnya apabila perlu. Begitulah; dia senantiasa pindah dari desa ke desa, dan kota ke kota lainnya


No comments:

Post a Comment