Thursday, March 31, 2011

KISAH-KISAH PENGAJARAN DALAM ISLAM

KISAH NABI SALEH

Bangsa Ad sudah lenyap binasa, karena dosa yang mereka perbuat. Negeri mereka sudah tandus dan kosong. Tetapi lama kelamaan di negeri itu terdapat satu bangsa yang menempati dan mendiaminya. Bangsa baru ini dinamakan dalam al-Quran, bangsa Tsamud. Merekalah yang berkuasa di atas bumi yang dikuasai oleh bangsa Ad dahulu itu.
Negeri itu dibinanya kembali, sehingga menjadi negeri yang makmur, lebih makmur lagi dari zaman bangsa Ad yang sudah lenyap itu. Penuh dengan kebun kebun, taman taman yang indah permai, dengan hasil yang berlipat ganda. Berdirilah kembali rumah rumah dan gedung gedung yang besar dan molek merupakan istana istana yang indah. Malah bukit bukit yang tinggi itu mereka lubangi menjadi rumah tempat tinggal yang teratur. Dengan rumah yang berupakan benteng benteng perlindungan yang kukuh kuat itu, mereka maksudkan dapat menjaga keselamatan diri dan keluarga mereka dari berbagai-bagai gangguan manusia dan alam. Hidup bangsa Tsamud ini penuh dengan harta kekayaan, senang bahagia tidak kekurangan suatu apa.
Hanya seperkara, sebagaimana juga bangsa Ad dahulu, mereka lupa sama sekali kepada Tuhan, tidak kenal sama sekali kepada Allah. Karena itu lama kelamaan mereka semakin jahat, jauh dari segala yang baik, malah menjadi sombong sesombong sombongnya dengan harta dan kekayaan yang mereka miliki itu. Mereka kira yang harta kekayaan mereka itu akan kekal di tangan mereka, kesenangan dan kebahagiaan hidup mereka akan tetap selamanya. Lalu mereka berbuat sekehendak hati mereka sendiri, menyembah dan memuja pula terhadap batu batu yang mereka buat sendiri merupakan patung. Tepat sebagaimana yang sudah terjadi di zaman Ad.
Kepada mereka lalu diutus Allah pula seorang Utusan, Saleh namanya. Untuk membawa mereka mengenal Allah, mensyukuri nikmat Allah, meninggalkan menyembah batu batu yang tidak berhak disembah itu.


Terhadap semua apa juga yang disampaikan Nabi Saleh itu, mereka menutup telinga dan memejamkan mata, tidak mahu tahu dan percaya. Nabi Saleh mereka pandang seorang yang tidak sepatutnya menasihati mereka, karena merekalah yang lebih pintar dan pandai, lebih kaya, terhormat dan berkuasa, kata mereka.
Hanya sebahagian kecil yang terdiri dari orang-orang melarat tingkatan rendah saja yang mahu mendengarkan dan menurut ajaran itu. Sedang yang lain jangankan akan mengikuti dan tunduk, malah Nabi Saleh mereka anggap tidak siuman otaknya, kena sihir atau dimasuki Setan, katanya. Kalau memang perlu nabi, maka kamilah yang pantas menjadi nabi, karena kami lebih pintar dan lebih mulia dalam masyarakat daripada engkau, kata mereka kepada Saleh.
Sungguhpun begitu, Nabi Saleh tetap menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya, menyampaikan ajaran ajaran yang benar, dengan kesabaran dan ketenangan. Sebab itulah makanya ada pula orang-orang yang melarat yang turut dan tunduk akan ajaran itu. Hal ini akhirnya membimbangkan orang-orang yang tidak mahu tunduk itu.
Mereka mencari cara dan jalan untuk memalingkan perhatian orang dari Nabi Saleh itu, yang dapat melemahkan dan merendahkan pandangan orang terhadap Saleh.
Begitulah pada suatu hari, mereka datang kepada Saleh dan berkata: Cuba engkau tunjukkan kepada kami satu mukjizat (keluarbiasaan) sebagai tanda kenabianmu itu. Kalau tidak, tentu engkauini orang yang bohong semata mata.
Mendengar kata dan pendirian mereka yang demikian itu, tidak ada yang dapat diperbuat Nabi Saleh selain berdoa kepada Tuhan: Ya, Tuhanku! Kaumku tetap mendustakan aku, selain sebahagian kecil saja yang beriman denganku. Untuk mengatasi ini, sudi apalah kiranya Tuhanku memberi aku satu mukjizat untuk jadi tanda kebenaranku. Dengan mukjizat mana, mudah mudahan mereka beriman jua!
Allah mengabulkan permintaan Nabi Saleh, lalu berfirman kepadanya: Pergilah mendapatkan kaummu dan katakan kepada mereka agar mereka berkumpul di luar kota di kaki gunung yang tampak itu, untuk dapat melihat mukjizat yang mereka kehendaki itu. Dari gunung itu nanti akan muncul seekor unta betina yang luar biasa bagus, besar dan gemuk, tidak pernah mereka melihat unta seperti itu. Tetek unta itu akan selalu penuh dengan air susu, sekali pun setiap jam diperah tidak henti hentinya. Setiap orang diperbolehkan mengambil air susunya, dengan syarat bahawa unta itu dibiarkan bebas sebebas bebasnya, tidak boleh diganggu dan diusik oleh siapa saja. Dan unta itu harus dibiarkan meminum air yang ada di sumur itu berganti hari dengan mereka penduduk. Ertinya hari ini air minum itu semuanya untuk unta itu, dan besoknya air sumur itu semuanya untuk penduduk. Begitulah seterusnya. Di hari giliran unta, tidak seorang juga manusia dibenarkan mengambil air. Begitu pula di hari giliran penduduk, unta tidak akan meminum sedikitpun. Setelah wahyu itu disampaikan Nabi Saleh kepada mereka, mereka berkumpullah menanti unta yang dimaksudkan itu. Tak lama kemudian, dari gunung itu muncullah seekor unta yang luar biasa bagus, gemuk dan besarnya, persis seperti apa yang diterangkan Nabi Saleh kepada mereka.
Unta itu langsung ke sumur dan meminum semua air yang ada. Dan benar bahawa tetek unta itu selalu penuh dengan air susu. Mereka mulailah mengambil tempat susu untuk dapat mengambil air susu dari unta itu.
Demikianlah saban hari, di hari mereka tidak dapat air dari sumur karena habis diminum unta, sebagai gantinya mereka dapat memerah air susu dari unta itu untuk diminum.
Begitulah dari hari ke hari, minggu ke minggu, orang orang beriman semakin bertambah kuat keimanannya, tetapi bagi orang orang yang engkar bukan menjadi beriman kerananya sebagai kata kata mereka ketika meminta minta mukjizat dahulu, malah mereka bertambah irihati terhadap Nabi Saleh dan orang orang yang beriman, mereka terus mengengkari seruannya terang terang.
Maka timbullah keinginan buruk dalam batin mereka untuk membunuh unta itu, agar kebenaran Nabi Saleh tidak tersiar kerananya. Mula mula mereka berani, tetapi kemudian ragu ragu dan takut, sebab sebagai dikatakan, Nabi Saleh mengancam dengan turunnya seksa Tuhan bila unta itu diusik.
Lama mereka itu berfikir-fikir antara membunuh unta itu atau tidak membunuhnya. Berapa kali di antara mereka mencuba mendekati unta itu untuk dibunuhnya, tetapi mereka akhirnya mundur karena khuatir akan seksaan yang dijanjikan Nabi Saleh itu. Lama konon unta itu tinggal merdeka menjadi perhatian orang banyak. Semakin banyak juga orang yang percaya kepada Saleh. Tetapi akal jahat dan niat buruk mereka itu membuka jalan bagi mereka untuk melakukan satu perbuatan yang sejahat jahatnya. Kecantikan seorang perempuan, akan mereka jadikan alat untuk menjalankan niat mereka yang jahat itu. Dengan perempuan cantik, dengan mudah mereka akan memperolehi pemuda yang berani untuk membinasakan unta itu.
Bila seorang lelaki telah dapat ditawan hatinya oleh seorang perempuan cantik, maka lelaki penakut bisa menjadi orang paling berani untuk menunaikan perintah perempuan yang cantik itu. Seorang lelaki yang se pintar pintarnya, bila sudah dapat ditawan hatinya oleh seorang perempuan cantik akan menjadi lelaki yang paling bodoh, sehingga dapat diperintah oleh si perempuan cantik itu melakukan pekerjaan yang bahaya sekalipun. Hal ini diketahui oleh mereka yang engkar dan kafir itu. Mereka tidak segan segan menjalankan tindakan keji itu. Seorang perempuan cantik yang derhaka, menyerahkan diri untuk melakukan lakonan berat ini.

Seorang perempuan cantik anak bangsawan dan kaya raya pula, Saduq binti AlMahya namanya, sanggup menyerahkan kehormatan dirinya kepada seorang pemuda berani, iaitu Masdak bin Mahraj, asal saja pemuda itu berani membunuh unta yang menjadi bukti kebenaran Nabi Saleh itu.

Ada lagi seorang perempuan tua yang keparat pula, dengan rela hati menyerahkan pula seorang anak gadis remaja kepada pemuda yang bernama Qudar bin Salif, asal saja pemuda itu berani pula membunuh unta itu.
Kedua pemuda itupun rupanya belum berani melakukan pembunuhan atas unta itu berdua duaan saja, lalu mencari teman teman lainnya. Mereka dapat teman tujuh orang lagi. Begitulah akhirnya semua mereka itu dengan diam diam mendekati akan tempat di mana unta itu berada, lalu memanah unta itu sehingga patah kakinya sebelah, diiringi oleh pukulan pedang yang tajam oleh Qudar bin Salif, sehingga terburailah perut besar dan usus unta itu keluar. Unta itupun lalu roboh ke tanah dan mati.
Kedua pemuda tadi lalu kembali mendapatkan kaumnya membawa khabar gembira ini dengan buktinya sekali. Semua rakyat engkar yang menjadi golongan mereka, menyambut kedua pemuda itu sebagai sambutan seorang jenderal besar yang menang perang layaknya, bahkan lebih dari itu. Keberanian pemuda pemuda itu dipuja setinggi langit dengan kata dan pujaan yang luar biasa.
Mereka sudah bunuh unta itu, dan tidak terjadi apa apa. Lalu mereka mengejek akan firman Allah, peringatan Nabi Saleh yang telah memberi ancaman kepada siapa yang berani membunuh unta itu. Mereka mengejek dan berkata: Ya, Saleh, datangkanlah sika yang telah engkau janjikan itu, sekiranya engkau benar benar utusan Allah.
Saleh berkata kepada mereka: Saya sudah beri peringatan kepadamu sekalian, tetapi peringatan saya itu sudah kamu langgar dengan nyata. Kamu sudah berbuat dosa. Sekarang kamu boleh bersenang-senang dan bergembira atas kematian unta itu tiga hari saja. Sesudah tiga hari, seksa yang dijanjikan Tuhan itu akan datang, dan bukanlah ini perjanjian yang bohong.
Tempoh tiga hari masih diberikan kepada mereka oleh Nabi Saleh, dengan harapan mudah mudahan mereka insaf dan minta ampun, beriman kepada Allah dan utusanNya. Tetapi oleh kaum yang derhaka dan celaka itu, dianggap sebagai tanda kelemahan. Belum sampai tiga hari, mereka sama sama datang kepada Nabi Saleh mengejek lagi dengan bertanya: Percepatkanlah datangnya seksa yang engkau janjikan itu. Dan banyak lagi cara cara mereka mengejek itu.

Nabi Saleh hanya berkata: Hai, kaumku, kenapa kamu minta segera datangnya seksa, bukan kebaikan? Kenapa kamu tidak minta ampun kepada Allah, mudah mudahan kamu diberinya ampun?.
Sehari sebelum janji itu habis, karena mereka masih ragu ragu dan syak, sehingga berhati takut takut terhadap seksa yang dijanjikan itu, maka mereka mengadakan rapat raksasa sekali, di mana mereka bersepakat akan membunuh Nabi Saleh di malam itu juga, kerana sangka mereka dengan matinya Nabi Saleh, seksa itu mungkin tidak datang. Allah melindungi NabiNya, sehingga terjauh dari pembunuhan di malam itu.
Besoknya sebagaimana yang dijanjikan Nabi Saleh, maka azab atau seksa yang dijanjikan Tuhan itu turunlah, berupakan badai taufan yang sedahsyat dahsyatnya, sehingga mereka berserta harta benda dan ternak mereka musnah sama sekali. Rumah-rumah mereka yang besar-besar dan kukuh menjadi abu yang berterbangan kena tiupan taufan dahsyat. Hanya Nabi Saleh dan pengikutnya saja yang selamat. Melihat kejadian sedih itu, Nabi Saleh berkata: Hai, kaumku, sudah saya sampaikan kepadamu apa yang diperintahkan Allah menyampaikannya, dan sudah cukup nasihatku kepadamu, tetapi kamu tidak suka kepada orang yang beri nasihat.

Bangsa Ad dan Tsamud ini berulang ulang disebut Allah di dalam Kitab Suci al-Quran sebagai dua bangsa terjelek di permukaan bumi ini di zaman purba, sebelum lahirnya Nabi Muhammad s.a.w., sesudah kaum Noh yang juga sering disebut sebagai bangsa yang terjelek. Kedua bangsa terjelek tersebut sudah dihancurkan Allah se penuhnya. Bukan saja bangsa (manusia)nya yang dihancurkan Allah, tetapi juga seluruh harta benda, rumah dan tanah yang mereka diami, lebih hebat dari penghancuran yang disebabkan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.
Kalau ditanyakan orang, bangsa manakah yang terjelek di zaman sekarang ini, kita tak dapat menjawabnya, hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Dan menurut sebahagian ulama, sebagai mukjizat dari Muhammad s.a.w., sesudah Nabi Muhammad s.a.w., Allah tidak lagi akan melakukan penghancuran total demikian rupa sekalipun atas bangsa terjelek, kalau bangsa terjelek itu di zaman sekarang atau di zaman yang akan datang. Kepada Nabi Muhammad diajarkan bahawa Allah bersifat bahkan bernama as-Sabur, yang bererti sangat sabar. Segala seksaan hebat, Allah undurkan pelaksanaannya sampai nanti di Akhirat terhadap orang-orang atau bangsa-bangsa terjelek itu.
Sekalipun begitu, namun seksa seksa yang tidak bersifat total, melainkan bersifat insidental dan bersifat setempat, akan terus menerus dilaksanakan Allah atas orang dan bangsa atau golongan yang sudah melewati batas kejahatan atau dosanya. Seksa itu mungkin berupa perang hebat, kekacauan atau bencana alam. Setiap kekacauan dan bencana alam pada hakikatnya menurut Agama Islam adalah merupakan peringatan dari Allah, agar manusia kembali ingat dan beriman kepada Allah. Sebab itu, untuk mengatasi segala macam kekacauan dan bencana, selain tindakan yang bersifat politik, ekonomi dan sosial, harus dilaksanakan pula dengan cara bertaubat, minta ampun, bersyukur, memuji-muji terhadap Allah, dan dengan mempergiat berbagai-bagai ibadat dan amal kebajikan yang diperintahkan dan diajarkan Allah. Perbanyakan sembahyang, puasa, zikir, doa dan bersedekah terhadap fakir miskin atau orang orang yang kesusahan. Dengan jalan begitu, Allah akan melenyapkan segala kekacauan dan bencana-bencana itu.

KISAH-KISAH PENGAJARAN DALAM ISLAM

KISAH NABI NOH
PENCIPTA KAPAL PERTAMA

Kalau benarlah apa yang di katakan oleh Hisyam bin Muhammad bin as-Saib al-Kalby, bahawa Adam dan Hawa mula pertama diturunkan Allah ke permukaan bumi, di daerah pergunungan yang paling subur bernama Gunung Nut, India. Sedang menurut Ahmad Zaky, Gunung Nut itu nama aslinya adalah Gunung Rahun, dimana Adam pertama kali diturunkan. Di sanalah Adam dan Hawa hidup dan berketurunan. Di antara keturunan Adam dan Hawa ada yang hidup berpindah randah, tentu saja dengan tujuan mencari tempat yang lebih baik, udara yang lebih nyaman, atau penghasilan yang lebih mudah mendapatkannya. Dengan jalan begitu, manusia makin lama makin banyak jumlahnya, dan daerah yang mereka tempati semakin luas pula, berkembang ke Timur dan ke Barat, ke Utara atau ke Selatan. Beberapa abad kemudian, dunia ini menjadi ramai dan semakin ramai. Pada abad pertama sampai kelima menurut Said yang diambil dari perkataan Qatadah (Sahabat Rasulullah s.a.w.), mereka boleh dikatakan hidup dalam keadaan aman dan tenteram, dengan kepercayaan yang benar sesuai dengan ajaran Adam dan Hawa yang sangat giat menunjuki akan anak turunan-nya agar jangan sampai tersesat dan celaka, seperti apa yang sudah terjadi antara adik dan kakak yang bernama Qabil dan Habil. Tetapi dalam abad-abad yang berikutnya, iaitu kira-kira pada turunan yang kelima atau keenam dari Adam dan Hawa, mulailah timbul kerosakan dalam kepercayaan mereka. Ajaran Adam dan Hawa nenek moyang mereka, sudah mereka lupakan. Lalu timbullah berbagai-bagai kerosakan, kekacauan atau perselisihan antara mereka. Diriwayatkan oleh Atiyah dari Ibnu Abbas r.a., bawah manusia di saat wafatnya Adam semuanya baik dan beriman, tetapi kemudian hampir seluruhnya menjadi seperti binatang binatang yang tidak mempunyai akal. Dan karena itulah Allah lalu mengutus Nabi-nabi dan Rasul-rasul, untuk membimbing mereka, dengan memberi khabar gembira dan ancaman. Nabi pertama yang diutus Allah, iaitu Nabi Idris a.s. kira-kira dalam abad keenam sesudah Adam. Tetapi Nabi Idris ini mereka dustakan, sampai Nabi Idris ini diangkatkan Allah ke Tempat Tinggi (wafat). Sepeninggalan Nabi Idris a.s., di antara manusia yang hidup kafir dan jahat seperti binatang itu, ada pula beberapa orang yang hidup secara baik, sehingga mereka dicintai oleh kaum kerabat dan orang orang yang ada di sekitar mereka. Di antara mereka itu ada lima orang yang amat masyhur, iaitu yang bernama: Wad, Suwaa, Yaghuth, Yauuq dan Nasr. Menurut Hisyam, kelima-lima orang yang baik ini mati serentak berturut turut dalam satu bulan, sehingga menyebabkan kegemparan yang amat sangat bagi keluarga dan orang-orang yang mencintai mereka itu. Kemudian salah seorang dari kerabat yang sangat cinta mengusulkan kepada teman-teman dan kaum kerabat, agar bagi kelima orang baik yang telah meninggal dunia itu, dibuatkan gambar berupa patung yang menyerupai mereka, sekadar untuk kenang kenangan supaya melepaskan teragak atau rindu hati terhadap masing-masing mereka. Usul ini diterima orang banyak dengan gembira. Lalu di carilah orang-orang yang pandai menggambar dan mematungkannya. Mereka buatlah lima patung (berhala) yang pertama di dunia ini, yang masing-masingnya mereka beri nama dengan nama nama dari orang yang meninggal itu, iaitu Wad, Suwaa, Yaghuth, Yauuq dan Nasr. Begitulah, patung-patung itu sering mereka datangi untuk melihatnya, mereka hormati, kadang-kadang dengan upacara-upacara tertentu. Demikianlah terjadi pada abad pertama.

Menurut at-Tabary, nama-nama tersebut sesudah ditaarifkan, iaitu dibahasa-Arabkan, iaitu sesudah dilbranikan dari bahasa aslinya. Pada abad kedua, cara membesarkan dan menghormati patung-patung itu makin ditingkatkan. Dalam pada itu timbullah berbagai bagai cerita dongeng tentang patung patung atau berhala berhala tersebut, cerita-cerita yang sangat mempengaruhi jiwa manusia yang mendengarkannya. Dalam abad ketiga, mulalah timbul dogma-dogma, mitos atau kepercayaan-kepercayaan yang bersifat mistik.
Mereka katakan, bahawa nenek-moyang kita sampai menghormati patung patung itu, karena dengan penghormatan itu patung-patung tersebut dapat mendatangkan manfaat dan syafaat bagi mereka. Lalu patung-patung itu mereka sembah, mereka puja-puja. Timbullah kepercayaan menyembah patung-patung, dan patung-patung itulah tuhan, kata mereka.
Berkata Ibnul Kalby dari Ibnu Salih, bahawa menurut Ibnu Abbas r.a. antara Adam dan Noh adalah 12 abad lamanya. Dan di abad kedua belas sesudah Adam ini, seluruh manusia sudah menyembah patung-patung tersebut. Kerananya Allah lalu mengutus Nabi Noh a.s. untuk memperbaiki keadaan mereka yang sudah rosak itu.
Menurut al-Quran, umur Nabi Noh ini 950 tahun. Nabi Noh diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul ketika berumur 480 tahun, sampai wafatnya, iaitu dalam masa 500 tahun atau 5 abad lamanya. Nabi Noh a.s. dengan segiat-giatnya, tanpa mengenal lelah, siang dan malam, terus-menerus mencuba membelokkan kaumnya dari kekafiran menyembah patung-patung tersebut. Tetapi amatlah sulitnya, terlalu sedikit hasilnya. Dalam masa 5 abad itu, hanya berhasil mendapatkan pengikut 70 atau 80 orang saja, yang semuanya terdiri dari orang-orang yang lemah dan melarat saja.
Nabi Noh itu adalah seorang fasih berkata kata, tajam pemikiran atau akalnya, dapat menangkis kalau berdebat, bersifat sabar dan tenang. Sungguhpun begitu, setiap kali Nabi Noh membawa mereka kepada menyembah Allah, maka mereka menentangnya; setiap diperingatkan akan azab dan seksa Tuhan, mereka menutup anak telinga masing-masing; saban diberi khabar suka dengan Syurga Allah, bahkan mereka menyombong dan mengejek serta mencuba membantah seruan Nabi Noh.
Dengan sabar dan tak putus asa, Nabi Noh menghadapi mereka. Bukan sekali dua kali, bukan dalam waktu sebulan-dua bulan, atau setahun-dua tahun, tetapi dalam waktu berpuluh, bahkan beratus tahun. Hampir seluruh umur yang diberikan Allah kepada Nabi Noh yang lamanya 950 tahun itu, dipakaikan dengan segiat giatnya untuk membelokkan kekafiran kaumnya itu. Dengan kesabaran dan keterangan-keterangan yang terang dan jelas elas, dengan kepandaian berkata dan berbicara, dengan membawakan alasan-alasan yang lengkap. Langit dan bumi, siang dan malam, laut dan darat, dipergunakan Nabi Noh sebagai alasan dan bukti atas keagungan Allah atas kekuasaanNya, dan atas keesaan Allah.

Sedikit sekali mereka yang percaya kepada Noh dan mengiakan pelajarannya. Tidak sesuai dengan jumlahnya manusia, tidak cocok dengan kegiatan dan kebijaksanaan yang sudah diberikan Nabi Noh. Tidak lebih jumlah mereka yang menurut ini daripada 80 orang saja. Yang lain tetap engkar, tidak percaya, tetap mem-bantah dan membesarkan diri, mengejek dan lain-lain sebagainya.
Reaksi dari mereka yang engkar itu bukan semakin berkurang, malah bertambah hebat dan meningkat juga. Mereka berkata ke-pada Nabi Noh: Bukankah engkau manusia biasa seperti kami juga, buat apa kami mengikuti engkau. Kalau diutus kepada kami seorang Malaikat, barangkali dapat kami mengikutnya, mengiakan katanya. Bukankah orang-orang yang mengikuti engkau itu, orang-orang yang rendah dan bodoh belaka. Sedangkan kami ini orang orang yang mulia, berkedudukan dan pekerjaan yang tinggi-tinggi, tidak mengharapkan fikiran dan pertolongan orang lain, cukup kepandaian dan kepintaran Engkau sendiri, ya Noh, bukan lebih dari kami tentang harta, tentang akal dan fikiran, tentang pemandangan, bahkan engkau kami pandang orang yang dusta.
Semua itu dijawab oleh Nabi Noh dengan jawapan yang tegas tepat, dengan keterangan-keterangan yang dapat melemahkan dan mengalahkan hujah mereka: Dapatkan gerangan kamu memutar jalan matahari dengan kepandaianmu, atau mencapai bintang dengan tanganmu? Dapatkah kamu beroleh terang kalau tidak karena matahari yang diciptakan Allah. Dapatkah kamu hidup kalau tidak dengan udara yang dijadikan Allah?
Mereka menjawab lagi dengan sanggahan yang baru dan dibuat-buat: Kalau engkau benar-benar orang yang mencintai sesama manusia, cintailah orang-orang yang telah mengikutimu itu saja, sedang kami biarkanlah saja, karena kami tidak akan dapat mengikuti jejak mereka, kami tidak dapat menganut agama yang mereka anut yang engkau ajarkan itu, dimana disamakan sang raja raja dengan rakyat murba, orang-orang yang mulia dengan orang yang hina-dina, orang yang kaya dengan orang-orang yang miskin.
Nabi Noh menjawab: Bahawa agama ini buat kamu sekalian, dengan tidak mengecualikan yang pintar dan yang bodoh, yang jadi raja dan yang jadi budak, yang berkuasa dan dikuasai, yang kaya dan yang miskin.
Debat ini bertambah sengit juga. Noh menghadapinya dengan sabar dan tenang saja, tetapi mereka rupanya telah sempit dada, lalu berkata kepada Noh: Hai, Noh, engkau sudah debat kami, dan telah lebih dari cukup banyaknya, datangkanlah kepada kami (seksa) yang engkau katakan itu, kalau engkau orang yang benar.

Nabi Noh menambah lagi dengan sabar: Sungguh kamu orang-orang yang bodoh sekali, kamu minta seksaan Allah, bukan rahmat Allah yang kamu tuntut. Ketahuilah bahawa Allah kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Kalau Allah menghendaki akan diseksanya kamu, dan kalau Allah suka datanglah seksaan itu selekas-lekasnya kepada kamu, dimana kamu pasti menyesal nanti.
Sehabis perdebatan itu, Nabi Noh selamanya bermunajat dan berdoa kepada Allah, mengemukakan perasaan hati dan bermohon ampun atas kelemahannya, minta petunjuk petunjuk yang baru, sambil mengeluh dan mengadu. Akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Noh: Tidak akan beriman kaummu itu selain orang-orang yang telah beriman itu, dan janganlah kamu berputus asa atas apa apa yang mereka perbuat. Sehabis berjuang dan berusaha, dengan kesabaran yang ada padanya, akhirnya Nabi Noh berdoa kepada Allah:
Ya Allah, janganlah dibiarkan tinggal di bumi ini orang-orang yang engkar seorang pun, sebab kalau engkau biarkan mereka tinggal, mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu, dan mereka akan menurunkan turunan yang jahat dan engkar saja.
Doa Nabi Noh ini didengar oleh Allah, dan dikabulkanNya, lalu berfirman: Engkau perbuatlah kapal dengan pertolongan dan petunjuk-petunjuk Kami dan janganlah engkau pohonkan pertolongan kepadaKu tentang nasib orang-orang yang zalim itu, mereka semuanya akan tenggelam.
Nabi Noh mulai membina kapal dengan mempergunakan kayu dan paku, di suatu tempat dekat kota. Dan tiap orang yang lalu di tempat itu, selalu mengejek dan memperolok-olokkannya dengan berbagai bagai kata dan bicara, Ada yang berkata: Engkau selama ini, hai Noh, mendakwakan yang engkau Nabi dan Rasul; kenapa had ini kami lihat engkau menjadi tukang kayu? Apa engkau sudah bosan menjadi Nabi dan ingin menjadi tukang kayu?
Ada pula yang mengejek: Apa gunanya kapal yang engkau buat itu, sedang di sini tidak ada laut dan sungai? Apakah engkau akan tarik dengan lembu kapal itu atau akan engkau terbangkan di udara?
Di bawah serangan ejekan itu Nabi Noh terus bekerja dan hanya berkata: Bila kamu tetap mengejek kami, kami akan mengejek kamu pula nanti sebagai kamu mengejek kami ini, dan akan kamu ketahui sendiri nasibnya orang-orang yang kena seksa itu, sedang seksaan itu akan terjadi.
Noh dan pengikutnya terus bekerja, sehingga sempurnalah pembikinan kapal itu. Hanya sekarang menunggu bagaimana perintah Allah selanjutnya. Dalam pada itu Tuhan telah mewajibkan kepada Noh, agar bila seksa itu telah datang, Noh dan pengikut-pengikutnya segera naik ke kapal itu, dengan membawa semua orang yang beriman dan binatang ternaknya yang berpasang-pasangan.
Terbukalah pintu-pintu langit, sehingga dari langit itu tercurah air sebesar-besarnya jatuh ke bumi, sedang dari bumi terpancar sumber-sumber air yang besar-besar, sehingga dalam sebentar waktu permukaan bumi digenangi air banjir yang luar-biasa hebatnya, menggenangi tanah yang tinggi dan yang rendah. Air banjir semakin naik juga sehingga telah mencapai rumah-rumah dan bukit-bukit, sedang Nabi Noh dan pengikut-pengikut-nya sewaktu itu telah berada di atas kapal yang mereka perbuat selama ini.
Dengan kegemparan yang luar biasa, manusia manusia engkar itupun berlompatan ke sana-sini tidak keruan tujunya sebagai se gerombolan keldai dikejuti singa, berteriak melolong lolong, menghindarkan diri masing-masing dari bahaya maut, Ada yang naik ke atas atap rumah rumah tetapi tercapai juga oleh air banjir, ada yang naik memanjat batang kayu yang tinggi, tetapi akhirnya tenggelam juga, ada pula yang berenang menuju ke bukit yang tinggi-tinggi yang menurut kiranya tidak akan tercapai oleh banjir yang bagaimana hebatnya.
Ketika Nabi Noh berdiri di tempat yang tertinggi di atas kapalnya, mata Nabi Noh terpandang kepada seorang anaknya yang bernama Kanan, anak yang engkar yang tidak tunduk kepadanya sedang berjuang dengan maut menggabai-gabai mencari tempat yang tinggi. Cinta kepada anak memaksa Noh memanggil anaknya yang malang itu, panggilan yang penghabisan: Hai, anakku! Mari bersama kami, janganlah engkau bersama orang-orang yang kafir itu ! Seruan yang penghabisan di saat yang genting begitu rupa itupun tidak dapat diterima oleh otak dan perasaan anak yang derhaka itu, karena ia masih percaya akan dapat menghindarkan dirinya dari seksaan yang nyata itu dengan kekuatan dan fikiran yang ada padanya. Seruan bapaknya itu dijawab dengan sombong pula: Saya akan mencapai puncak gunung yang tinggi itu, sehingga saya akan terlepas dari banjir ini.
Noh berkata lagi kepadanya, ya karena cinta kepada anak sendiri: Hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari seksa, selain Tuhan Yang Maha Pengasih. Anak itupun lenyap ditelan ombak yang sedang bergulung gulung, tinggallah Nabi Noh melihat dengan sedih dan berkata: Ya Allah, bukankah anakku itu termasuk keluarga saya sendiri?
Allah menurunkan ilham kepada Noh, bahawa anak itu bukan ahlimu lagi dan tidaklah termasuk menjadi keluargamu siapa saja yang kafir dan derhaka: Kami hanya berhak menolong orang orang yang iman saja. Allah ilhamkan pula kepada Noh, agar Nabi Noh jangan minta minta lagi kepada Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya dengan berfirman: Aku ajari engkau (ya Noh) tentang apa yang engkau masih jahil.
Nabi Noh insaf akan ajaran yang di terimanya dari Allah lalu menengadahkan kedua telapak tangannya bersyukur kepada Allah yang telah memelihara kaumnya yang beriman terlepas dari seksa, lalu Nabi Noh bermohon ampun atas segala dosa dan kesalahannya:
Aku berlindung diri kepadaMu, ya Tuhanku, atas apa-apa yang sudah saya mohon yang saya sendiri tidak tahu betul, dan kalau Engkau tidak beri ampun atas saya, sungguh saya akan tergolong orang orang yang merugi.
Banjir dahsyat dan gelombangnya yang bergulung itu telah dapat menelan semua manusia yang engkar. Langit mulai tertutup dan berhenti mencurahkan air, sedang bumi telah menghisap semua air yang ada di atas datarannya. Kapal Nabi Noh terhenti di atas puncak Gunung Judy yang sampai sekarang orang-orang pintar sedang mencari bekas bekasnya. Nuh dan pengikutnya kembali ke kampung-halamannya menghirup udara baru yang penuh dengan berkat dan pertolongan Allah.

Wednesday, March 30, 2011

TAZKIRAH

SEMBILAN BELAS HADITH
MENGENAI WANITA

1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat
penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah s.a.w. akan hal tersebut, jawab Baginda s.a.w., "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".

2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah s.w.t. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah s.w.t. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah s.w.t.

4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap
satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang
sakit, maka Allah s.w.t. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah s.w.t.

7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah s.w.t. dan orang yang takutkan Allah s.w.t., akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah). Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah s.w.t. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

10. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki
yang soleh.

12. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah s.a.w.,
"Suaminya". "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah
s.a.w, "Ibunya".

13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.

15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup
pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari
mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.

17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.

18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara
perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.

19. Daripada Aisyah r.a. "Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu
daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka."


TAZKIRAH

KURANG AGAMA DAN KURANG AKAL

Hadith :

Dari Abdullah bin Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w telah bersabda:

“Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar iaitu memohon ampun. Kerana aku melihat kaum wanitalah yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka.”

Seorang wanita yang cukup pintar di antara mereka bertanya:

“Wahai Rasulullah, kenapa kami kaum wanita yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka?”

Rasulullah S.A.W bersabda:

“Kamu banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat mereka yang kekurangan akal dan agama yang lebih menguasai pemilik akal, daripada golongan kamu.

Wanita itu bertanya lagi:

“Wahai Rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu?”

Rasulullah s.a.w bersabda:

“Maksud kekurangan akal ialah penyaksian dua orang wanita sama dengan penyaksian seorang lelaki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga wanita tidak mendirikan sembahyang pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan Ramadhan kerana haid. Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama”

(Muslim)

Huraian:-

Wanita dari asal kejadiannya ( fitrahnya ) memang telah diciptakan berlainan dan berbeza dengan lelaki, adanya kelainan atau perbezaan itu tentu ada maksud dan tujuannya yang tertentu. Lemahnya agama bagi golongan wanita tidak harus dijadikan alasan untuk memadamkan semangat dalam beribadah kerana pada saat seseorang perempuan itu haid atau nifas di mana mereka tidak dapat menjalankan ibadah solat dan puasa, mereka sebenarnya masih mampu menjalankan amal ibadah lain yang berpahala yang dapat mendekatkan diri pada Allah, kecuali sebaliknya iaitu jika mereka melibatkan diri dalam perbuatan yang mendatangkan dosa dan segala sesuatu yang dapat melalaikan
bahkan menjauhkan diri daripada Allah. Manakala perempuan dikatakan kurang (lemah) akalnya kerana fikiran mereka mudah sekali terpengaruh, tertipu dan terpedaya kerana mereka dikurniakan dengan banyak nafsu dan lazimnya mereka tidak berfikir lebih panjang dan bersifat emosional.

Oleh itu dalam hal pengadilan Islam lebih mengutamakan lelaki. Tetapi dalam hal yang lain, Islam sama sekali tidak menolak akan hakikat ketajaman pemikiran golongan wanita yang mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan kaum lelaki. Hanya sesungguhnya yang membezakan antara makhluk Allah S.W.T, tidak lain hanyalah nilai ketaqwaan mereka

TAZKIRAH

KITA IBARAT PINGGAN...
UNTUK RENUNGAN BERSAMA

Andaikan tiga orang yang berlainan meminjam sebiji pinggan daripada kita..
Selang beberapa hari, peminjam pertama memulangkan pinggan tersebut dalam keadaan bersih cantik tanpa sebarang kecacatan.. Kita pun terus menyimpannya di dalam rak pinggan mangkuk seperti keadaan asalnya..

Peminjam kedua pula memulangkan pinggan tersebut dlm keadaannya yang masih kotor, tidak dicuci.. Pinggan tersebut terpaksa kita basuh sehingga bersih sebelum menyimpannya..

Peminjam ketiga pula memulangkan pinggan tersebut dalam keadaan pecah.. Tidak boleh dibezakan lagi bentuknya antara pinggan mahupun serpihan kaca.. Tiada nilainya lagi.. Kita tiada pilihan lain selain membuangnya ke dalam tong sampah..

Begitulah jua halnya dgn Allah Taala.. Jika Kita kembali kepadaNya dalam keadaan bersih, elok, tanpa kekotoran dosa, maka Allah akan terus meletakkan Kita di tempat yang baik Dan tempat yg selayaknya bagi Kita.. Iaitu syurga..

Namun jika Kita kembali ke hadratNya dlm keadaan kotor dgn dosa, Allah akan 'basuh' Kita sebersih-bersihnya di dlm api neraka sebelum memasukkan Kita ke dlm syurga..

Tetapi jika Kita kembali kepadaNya dlm keadaan yg rosak imannya, sehingga tidak dpt dibezakan antara iman dengan kufur, maka Allah tidak akan teragak2 utk menghumbankan Kita ke dlm neraka jahannam yang hina buat selama-lamanya, ibarat pinggan yg pecah yang tidak bernilai lagi..

Semoga bermanfaat...


SEHARI 5 HADITH SAHIH

ILMU : IBADAH FIDYAH KIFARAH

JANGAN KEDEKUT ATAU TAMAK

Asma’ r.a menerangkan bahawasanya Rasulullah SAW bersabda (kepada Asma): “Nafkahkanlah dan janganlah kamu menyempitkan sedekah yang menyebabkan Allah menyempitkan (tidak mengeluarkannya) untuk kamu.” Dan janganlah kamu menyembunyikan sesuatu dalam bungkusan yang kerananya Allah memutuskan berkatnya dan kesuburannya.” 
 
(al-Bukhari dan Muslim)
 
 
ILMU : IBADAH FIDYAH KIFARAH
 
ZAKAT DAN RASULULLAH S.A.W
 
Dari Abu Hurairah r.a katanya:”Pada suatu waktu, ketika Hasan bin Ali masih kecil, dia pernah mengambil kurma dari tompokan kurma sedekah (zakat), lalu diletakkannya ke mulutnya. Maka bersabda Rasulullah s.a.w,:”Jijik, jijik, buang! Tidak tahukah kamu bahawa kita (keluarga Muhammad) tidak boleh memakan sedekah (zakat)?”
 
(Muslim)
 
ILMU : IBADAH SOLAH
 
CARA SOLAT RASULULLAH S.A.W
 
Dari Abu Hurairah r.a katanya:”Apabila rasulullah s.a.w berdiri untuk rakaat kedua baginda terus membaca Fatihah tanpa diam terlebih dahulu sebentar.”
 
(Muslim)
 
 
ILMU : AKIDAH USULUDDIN
 
DADA RASULULLAH S.A.W DIBELAH
 
Dari Anas bin Malik r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda:”Aku dibawa orang (Jibril a.s) ke telaga zamzam; di sana dadaku dibelah kemudian dibersihkan dengan air zamzam, sesudah itu aku dihantarkannya kembali ke tempatku semula.”
 
(Muslim)
 
 
ILMU : IBADAH AKIDAH
 
SEDEKAH YANG DITOLAK
 
Dari Ibnu ‘Umar r.a katanya:”Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:”Tidak diterima solat seseorang tanpa suci dan tidak diterima sedekah yang berasal daripada kejahatan (seperti mencuri, menipu, menggelapkan wang, merompak, judi dan sebagainya)”
 
(Muslim)

ILMU - ILMU ASAS ISLAM

MUAMALAT

BAB 5 : JENIS-JENIS HARTA

HARTA YANG BERHARGA (MUTAQAWWIM) DAN HARTA YANG TIDAK BERHARGA (GHAYR MUTAQAWWIM)
  • Harta yang berharga/bernilai ialah setiap harta yang disimpan oleh seseorang dan syara` mengharuskan penggunaannya. Contohnya seperti semua jenis harta tidak alih dan harta-harta alih juga makanan-makanan atau seumpamanya.
  • Harta yang tidak berharga/bernilai ialah harta yang tidak di dalam simpanan atau dimiliki orang seperti ikan di dalam sungai, burung di udara juga galian yang berada di dalam perut bumi atau harta yang tidak harus digunakannya pada syara` seperti arak, babi, kedua-dua ini tidak harus bagi orang Islam menggunakannya kecuali ketika darurat sahaja seperti bersangatan dahaga atau bersangatan lapar yang boleh membawa mati kalau tidak menggunakannya.
Tujuan pembahagian harta kepada harta yang berharga dan tidak berharga:
1. Harta yang berharga sah untuk semua urusan berakad dengannya seperti berjual beli, hibah, meminjam, gadaian, wasiat dan bersyarikat.
2. Harta yang tidak berharga tidak sah berakad dalam semua urusan seperti tidak sah menjual arak dan babi.
3. Wajib membayar ganti rugi oleh orang yang merosakkan harta yang berharga sama ada ganti rugi barang yang serupa sekiranya ada atau membayar nilai harganya.
4. Harta yang tidak berharga tidak wajib membayar ganti rugi orang yang merosakkannya.
HARTA TIDAK ALIH (`IQAR) DAN HARTA ALIH (MANQUL)
  • Harta tidak alih ialah harta yang tidak boleh dipindah atau diubah dari tempat asalnya seperti bangunan dan bumi.
  • Harta alih ialah harta yang boleh dipindah atau diubah dari tempatnya sama ada bentuk dan keadaannya kekal dengan dipindahkan atau berubah bentuknya seperti wang ringgit, barangan perniagaan, haiwan dan lain-lain.
  • Terkadang harta alih bertukar menjadi tidak alih dan sebaliknya.
Contohnya pintu rumah, tingkap atau jendela akan menjadi tidak alih bila dipasang di bangunan yang tetap buat selamanya, sebaliknya runtuhan rumah atau bangunan, galian yang dikeluarkan dari perut bumi, batu dan tanah akan bertukar menjadi harta alih bila sahaja bercerai dari bumi.
Faedah pembahagian harta kepada harta alih dan harta tidak alih adalah mengikut perbezaan hukum-hukum fiqh seperti berikut:

1. Hukum as-syuf`ah adalah sabit pada harta tidak alih sahaja dan tidak sabit pada harta alih.


2. Hukum jual janji adalah khusus bagi harta tidak alih sahaja. Erti jual janji ialah seseorang yang perlu pada wang maka dia jual harta tidak alih dengan syarat bila ia dapat wang maka akan diambil balik harta tidak alih yang telah dijual itu dengan membelinya semula dari orang yang membelinya ketika ia terdesak.

3. Pemegang amanah harta anak yatim tidak boleh menjual harta tidak alih yang dimiliki oleh anak-anak yatim melainkan dengan alasan yang dibenarkan oleh syara` seperti membayar hutang atau sangat-sangat perlu kepada perbelanjaan untuk anak yatim tetapi mesti mendapat kebenaran dari hakim atau qadhi. Adapun harta alih, maka pemegang amanah harta anak yatim boleh menjualnya bila ada sebarang maslahah pada jualan tersebut.

4. Segala hak yang berkaitan dengan jiran tetangga adalah bersangkut paut dengan harta tidak alih sahaja.

ILMU - ILMU ASAS ISLAM

MUAMALAT

BAB 4 : RIBA


1. Maksud Riba’.
- Pada bahasa ialah bertambah atau subur.
- Pada Syarak ialah aqad bagi sesuatu pertukaran barang-barang yang tertentu tetapi tidak diketahui persamaannya menurut kiraan syarak ketika aqad atau diketahui persamaannya dengan menggunakan kedua-dua pertukaran itu atau salah satu dari keduanya.
2. Riba’ terbahagi kepada tiga bahagian :-
a) Riba’ Al-Fadhl – riba yang dibayar lebih pada satu pihak yang menukarkan barang.
Contohnya : Satu kilo beras mahsuri ditukar dengan satu kilo beras yang lain ( berlainan kualiti dan jenis ).

b) Riba’ Al-Yad - riba’ yang dibayar lebih kerana tidak diterima dalam majlis aqad jualbeli.
Contohnya : Seseorang yang beraqad sebanyak RM 100.00 tetapi
apabila diluar aqad dibayar RM 105.00.

c) Riba’ Al-Nasi’ah – riba’ yang dibayar lebih kerana dilewatkan pembayarannya.
Contohnya : Pinjaman sebanyak RM 100.00 maka dibayar balik
RM 120.00
3. Dalil-dalil pengharaman riba’
- Firman Allah s.w.t yang bermaksud :
“Allah telah menghalalkan jualbeli dan mengharamkan riba’. ”
( Surah Al – Baqarah – Ayat 275 )

- Firman Allah s.w.t yang bermaksud :
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu makan riba’ yang berganda-ganda dan takutlah kamu kepada Allah s.w.t mudah-mudahan kamu mendapat kemenangan.”
(Surah Ali Imran – Ayat 130)

- Sabda Rasullah s.a.w yang bermaksud :
“Allah s.w.t telah melaknatkan orang yang makan riba’ orang yang berwakil padanya dan jurutulisnya dan saksi-saksinya dan mereka berkata mereka itu sama sahaja. “
(Riwayat Muslim)
4. Hikmah diharamkan riba’

- Riba adalah merupakan satu penindasan dan pemerasan terhadap orang-orang miskin kerana yang miskin bertambah miskin, fikirannya bertambah bimbang kerana memikirkan tentang bagaimana hendak membayar hutangnya yang sentiasa bertambah bunganya bila lambat dibayar.
- Pihak yang memakan riba’ akan bertambah kaya dan senang.
- Riba’ akan mendorong pemakannya hidup senang-lenang tanpa bekerja dan berusaha sedangkan Islam menggalakkan umatnya untuk berusaha dan bekerja.
- Riba boleh merenggangkan merosakkan perhubungan di antara orang kaya pemakan riba’ dengan orang miskin seterusnya akan menimbulkan kekacauan di dalam masyarakat dan negara timbullah di sana-sini rompakan, pembunuhan dan sebagainya.

5. Syarat-syarat penjualan barang-barang untuk mengelakkan riba’ :-
- Barang yang sama jenis:-
a) Hendaklah sama sukatan atau timbangan keduanya.
b) Hendaklah sama dengan tunai.
c) Hendaklah berterimaan di dalam majlis aqad.
- Barang yang tidak sama jenis:-
a) hendaklah dengan tunai.
b) hendaklah berterimaan di dalam majlis aqad.
6. Jika barang pertukaran itu berlainan jenis seperti beras dan wang dan sebagainya tidak dikenakan apa-apa syarat dan boleh dijualbeli sebagaimana dalam persetujuan antara kedua pihak.

( Rujukan Kitab - Kitab Matla’al Badrain – Syeikh Daud Fattani )


ILMU-ILMU ASAS ISLAM

MUAMALAT

BAB 3 : JUAL BELI

Bab Jualbeli :-
1. Jualbeli dari istilah bahasa ialah menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dari istilah syarak ialah menukar harta dengan harta mengikut cara-cara yang tertentu.
2. Dalil-dalil harus dan halal jualbeli:
1) Firman Allah s.w.t yang bermaksud :-
"Dan Allah s.w.t telah menghalalkan jualbeli dan mengharamkan riba." (Surah Al-Baqarah : ayat 275)

2) Firman Allah s.w.t yang bermaksud :-
" Janganlah kamu makan harta yang ada di antara kamu dengan jalan batil melainkan dengan jalan jualbeli secara redha daripada engkau." (Surah An-Nisaa' : Ayat 29)

3) Sabda Rasullah s.a.w yang bermaksud :-
"Sesungguhnya jualbeli itu adalah lahir dari redha-meredhai."
(Riwayat Ibnu Hibban)
3. Hikmah diharuskan jualbeli :-
1. Allah s.w.t telah menjadikan sifat semulajadi manusia yang memerlukan pertukaran faedah harta di antara sesama manusia samada menerusi jualbeli, sewa-menyewa dan sebagainya.
2. Dengan adanya peraturan jualbeli ini maja akan terhindarlah kejadian rampas-merampas atau rompakan yang mana manusia ingin memiliki harta benda yang tiada padanya.
3. Berjualbeli adalah mengajar manusia supaya hidup bersatupadu dan hidup mengikut lunas undang-undang.
4. Rukun jualbeli terbahagi kepada enam :-
1. Penjual
2. Pembeli
3. Harga yang dibeli
4. Barang yang dijual
5. Sighah (lafaz penjual)
6. Qabul (lafaz pembeli)
5. Syarat-syarat penjual dan pembeli :-
1. Baliqh dan berakal
2. Tidak bankrap atau bodoh
3. Tidak dipaksa
4. Beragama Islam
5. Merdeka
6. Bukan berurusan dengan Musuh Islam.
6. Syarat-syarat harga dan barang yang dijual:-
1. Barang-barang itu mestilah suci dan bersih.
2. barang itu kepunyaan penjual itu sendiri ayau wakil penjual
3. Menyerahkan barang kepada pembeli ketika melakukan akad jualbeli.

Sebagaimana sabda Rasullah s.a.w yang bermaksud :-
"Dari Abu Hurairah r.a bahawa Rasullah s.a.w telah melarang dari menjual jualan secara tipu daya."
4. Penjual dan pembeli mesti tahu tentang jenis, kadar dan sifat barang yang dijual.
7. Syarat-syarat Ijab (lafaz Penjual) dan Qabul (lafaz Pembeli)
1. Tidak diselangi oleh perkataan yang lain ketika akad jualbeli.
2. Tidak diselangi oleh diam yang lama di antar ijab dan Qabul
3. Bersamaan Ijab dan Qabul dari segi maknanya walaupun berlainan dari segi lafaznya.
4. Tidak boleh dihadkan waktunya.
5. Tidak boleh bertakliq.
8. Apabila tidak cukup rukun dan syaratnya maka jualbeli tersebut adalah tidak sah.
9. Syarat membeli kitab suci Al-Quran dan kitab Al-Hadith itu hendaklah ia beragama Islam.
10. Beberapa persoalan yang melibatkan jualbeli :-
1. Tidak sah menjual binatang buas.
2. Tidak sah menjual sesuatu yang najis yang tidak dapat disucikan.
3. Tidak sah menjual harta benda yang telah digadaikan kepada orang lain melainkan dengan keizinan daripada orang yang memegang gadaian.

Tuesday, March 29, 2011

ILMU - ILMU ASAS ISLAM

MUAMALAT

BAB 2: PERKARA BERHUBUNG MUAMALAT


MURABAHAH (JUALAN PENAMBAHAN UNTUNG)

Iaitu menyebutkan harga modal barang-barang yang dibeli kepada orang yang akan membeli dengan memberi syarat,supaya barang itu diberi untung.

Contoh 1: Umpamanya seseorang berkata : "Barangku ini aku beli berharga RM100,sekarang berilah aku keuntungan 10%" lalu diterima oleh orang yang akan membeli .

-Maka penjual diatas mendapat untung RM10 dari modal belian beharga RM100.

Contoh 2: Umpamanya seseorang berkata :"Saya jual rumah ini dengan harga yang saya beli dengan tambahan untung 10%".

Contoh 3: Umpamanya seseorang berkata :"Saya jual kepada anda sebagaimana saya beli serta untung satu dirham pada tiap-tiap sepuluh dirham" jawab pembeli itu,saya terima.

-Maka sahlah jualan itu.

Contoh 4: Umpamanya seseorang berkata :"Aku hendak menjual barang-barangku yang telah kubeli, bila engkau mahu membeli barangku itu semua maka tiap-tiap 10 buah, engkau

WADI’AH (SIMPANAN)

Ertinya barang yang diserahkan (diamanatkan) kepada seseorang supaya barang itu dijaga dengna baik. Jadi barang Wadiah itu beerti barang amanat yang harus dikembalikan kepada orang yang empunya,bila ia datang meminta.

Firman Allah s.w.t:

 وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
Maksudnya : "Maka hendaklah orang yang diamanahkan itu menyempurnakan apa yang diamanahkan kepadanya,dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah".
(Surah Al-Baqarah ayat 283)

Firman Allah S.W.T:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Maksudnya: "Sesungguhnya Allah menyuruhmu,supaya amanat itu diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya (yang empunya)".
(Surah An-nisa' ayat 58)

BAI’USSALAM (PENANGGUHAN PENYERAHAN BARANG)
Perkataan Salam itu asal maknanya serah atau tangguh, maksudnya disini iaitu menjual sesuatu barang yang disifatkan kepada tanggungan seseorang yakni jual secara pesanan atau order(memesan barang).

Contoh 1: Umpamanya Zaid berkata kepada si Ali :"Buatkanlah saya satu seluar dari kain woll yang berwarna kuning muda,ukurannya 105cm panjang,70cm pinggang,25.5cm besar kaki,43cm lebar pinggul,kocek belakang satu dan sebagainya dengan harga RM100.

Firman Allah s.w.t :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأخْرَى وَلا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلا تَرْتَابُوا إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 

Maksudnya : "Wahai orang-orang yang beriman apabila kamu menjalankan sesuatu urusan dengan hutang(yang diberi tempoh) hingga ke suatu masa yang tertentu maka hendaklah kamu menulis (hutang dan masa bayarannya) itu.
(Surah Al-Baqarah ayat 282)

AL-IJARAH (UPAHAN)
Menurut istilah Bahasa Arab,kalimah Ijarah merujuk kepada bayaran yang diberikan kepada orang yang melakukan sesuatu kerja sebagai ganjaran kepada apa yang dilakukannya.

Contoh 1: Ahmad datang membawa sepotong kain kepada seorang tukang jahit untuk dibuat seluar,tukang jahit itu menjamin dalam pengakuannya,bahawa seluar tersebut akan selesai tempoh 3 hari. Setelah sampai waktunya,si Ahmad datang mengambil seluarnya dan menyerahkan wang sebanyak RM 50 kepada tukang jahit itu.

Firman Allah s.w.t :

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأمِينُ
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Maksudnya: Salah seorang diantara perempuan yang berdua itu berkata:"Wahai ayahku ambillah dia menjadi orang upahan(mengembala kambing kita),sesungguhnya sebaik-baik orang yang ayah ambil bekerja ialah orang yang kuat lagi amanah. Bapa perempuan itu berkata (kepada Musa)"aku hendak mengahwinkan dengan salah seorang dari dua anak perempuanku ini,dengan syarat bahawa engkau bekerja denganku selama 8 tahun,dalam pada itu jika engkau genapkan menjadi 10 tahun,maka yang demikian itu adalah dari kerelaanmu sendiri. Dan (ingatlah) aku tidak bertujuan hendak menyusahkanmu,engkau akan dapati aku insyaallah,dari orang-orang yang baik layanannya".
(Surah Al-Qasas ayat 26-27)

AR-RAHNU (PAJAK GADAI)
Menjadikan harta benda sebagai jaminan atas hutang iaitu maksudnya menjadikan sesuatu barang sebagai cagaran bagi sesuatu hutang dan menjadi bayaran sekiranya tidak terdaya membayar hutang itu nanti.

Firman Allah s.w.t :

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ



Maksudnya : "Maka hendaklah orang yang diamanahkan itu menyempurnakan apa yang diamanahkan kepadanya,dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah".
 (Surah Al-Baqarah ayat 283)

Sabda Rasulullah s.a.w : Maksudnya :

"Dari Aisyah r.a bahawa nabi s.a.w pernah membeli makanan dari seorang yahudi dengan cara berjanji dan dirungguhkannya(digadaikannya) sehelai baju besi".

(Riwayat Al-Bukhari&Muslim)

AL-WAKALAH (BERWAKIL)
Ertinya seseorang yang menyerahkan sesuatu urusannya kepada orang lain pada apa yang boleh diwakilkan menurut syarak,agar orang yang diwakilkan itu dapat melakukan sesuatu yang diserahkan kepadanya Selagi yang menyerahkan itu masih hidup.

Al-Wakalah ini lebih berhubung dengan muamalat & munakahat seperti bab jual-beli dan bab perkahwinan dan lain-lain. Tidak sah mewakilkan sembahyang,puasa dan lain-lain hal yang bersangkut-paut dengan ibadah kecuali ibadah haji & umrah(kedua-duanya boleh diwakilkan),sebab ibadah itu adalah perhubungan manusia dengan tuhannya.

Firman Allah s.w.t :

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Maksudnya:"Maka kirimlah(utuslah) seorang hakim dari keluarga yang laki-laki dan seorang hakim dari keluarga perempuan,jika kedua-duan orang tengah itu (dengan ikhlas) bertujuan hendak mendamaikan".
(Surah An-Nisa' ayat 35)


AL-MUDHARABAH (BERKONGSI UNTUNG)

Pada bahasa ialah musafir untuk berniaga.

Firman Allah s.w.t :

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الأرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maksudnya :"Dan yang lainnya orang-orang yang musafir dibumi untuk mencari rezeki dari limpah kurnia Allah".
(Surah Al-Muzammil ayat 20)

Mudharabah juga dikenali dengan nama qiradh iaitu potong,kerana orang yang memiliki harta memotong sebahagian hartanya untuk diniagakan dengan harta itu.

Mudharabah juga dikenali sebagai Mu'amalah yang dimaksudkan disini ialah aqad perjanjian yang dibuat oleh dua pihak :

Pihak pertama:
Memberi sejumlah wang kepada pihak kedua supaya berniaga,dengan syarat keuntungan dibahagikan antara keduanya mengikut persetujuan sebagaimana yang dijanjikan seperti 1/2,1/3 dan seterusnya.

Pihak kedua :
Berusaha atau berniaga dengan modal yang diberikan oleh pihak pertama mengikut segala syarat yang dipersetujui kedua pihak.

AL-QARDH AL-HASAN (HUTANG TANPA SYARAT/JANJI)
Ialah hutang tanpa syarat atau janji untuk membayar balik lebih daripada hutang tetapi memberi saguhati kepada tuan punya hutang semasa membayar,bukan kerana syarat atau janji.

Contoh 1 :
Seorang berhutang daripada seorang lain tanpa syarat atau janji sebarang bayaran lebih atau manfaat, semasa akad atau di luar akad atau sebelum hutang itu di jelaskan tetapi apabila menjelaskan hutangnya orang yang berhutang itu memberi saguhati atau hadiah kepada tuan punya hutang.

Contoh 2 :
Ali membayar hutangnya kepada Abu sebanyak RM50 beserta RM3 berupa saguhati.

AL-BAI BITHAMAN AJIL (JUALAN DENGAN HARGA TANGGUH)
Jualan dengan harga tangguh atau jualan dengan bayaran ansuran ialah menjual sesuatu dengan disegerakan penyerahan barang yang dijual kepada pembeli dan di tangguhkan bayaran harganya sehingga ke satu masa yang di tetapkan atau dengan bayaran beransur-ansur.

Contohnya :
Umpamanya kerusi antik, harga tunai RM2000, jika tangguh RM2200.

Rujukan & Petikan di ambil dari Kitab :
1) Kitab Matla'al Badrain-Syeikh Daud Fattani di susun oleh Ibnu rahmat
2) Fiqh Syafie Jilid 2-Ustaz H.Idris Ahmad S.H
3) Syarah Hadith 40-Khalil Ibrahim Mulla Khotir
4) Terbitan Sasbadi-Ustaz Hamil@Amir Abdul Hameed
5) Fiqh Muamalat &Jenayah/Fiqh 11(PPJJ UKM)
i) Dr.Muhammad Hj Md Daud
ii) Dr.Ahmad Kamaruddin Hj Hamzah
6) Konsep Syariah Dalam Sistem Perbankan Islam
i) BIMB Institute Of Research And Traning Sdn.Bhd(BIRT).


 

PENGAJIAN KITAB SYARAH AL HIKAM

ALLAH S.W.T
YANG MENZAHIRKAN ALAM


ALAM SEKALIANNYA ADALAH KEGELAPAN DAN  YANG MENERANGKANNYA ADALAH KERANA PADANYA KELIHATAN YANG HAQ (TANDA-TANDA ALLAH S.W.T). BARANGSIAPA  MELIHAT ALAM TETAPI DIA TIDAK MELIHAT ALLAH S.W.T SAMA ADA DALAMNYA,  DI SAMPINGNYA,  SEBELUMNYA , ATAU SESUDAHNYA, MAKA DIA BENAR-BENAR MEMERLUKAN WUJUDNYA CAHAYA-CAHAYA ITU DAN TERTUTUP BAGINYA CAHAYA MAKRIFAT OLEH TEBALNYA AWAN BENDA-BENDA ALAM.
Alam ini pada hakikatnya adalah gelap atau ‘adam, tidak wujud. Wujud Allah s.w.t yang menerbitkan kewujudan alam. Tidak ada satu kewujudan yang berpisah daripada Wujud Allah s.w.t. Hubungan Wujud Allah s.w.t dengan kewujudan makhluk sekiranya dibuat ibarat (sebenarnya tidak ada sebarang ibarat yang mampu menjelaskan hakikat yang sebenarnya), perhatikan kepada api yang dipusing dengan laju. Kelihatanlah pada pandangan kita bulatan api. Perhatikan pula kepada orang yang bercakap, akan kedengaranlah suara yang dari mulutnya. Kemudian perhatikan pula kepada kasturi, akan terhidulah baunya yang wangi. Wujud bulatan api adalah wujud yang berkaitan dengan wujud api. Wujud suara adalah wujud yang berkaitan dengan wujud orang yang bercakap. Wujud bau wangi adalah wujud yang berkaitan dengan wujud kasturi. Wujud bulatan api, suara dan bau wangi pada hakikatnya tidak wujud. Begitulah ibaratnya wujud makhluk yang menjadi terbitan daripada Wujud Allah s.w.t. Wujud bulatan api adalah hasil daripada pergerakan api. Wujud suara adalah hasil daripada perbuatan orang yang bercakap. Wujud bau wangi adalah hasil daripada sifat kasturi. Bulatan api bukanlah api tetapi bukan lain daripada api dan tidak terpisah daripada api. Suara bukanlah orang yang bercakap tetapi bukan pula lain daripada orang yang bercakap. Walaupun orang itu sudah tidak bercakap tetapi masih banyak lagi suara yang tersimpan padanya. Bau wangi bukanlah kasturi tetapi bukan pula lain daripada kasturi. Walaupun bulatan api boleh kelihatan banyak, suara kedengaran banyak, bau dinikmati oleh ramai orang namun, api hanya satu, orang yang bercakap hanya seorang dan kasturi yang mengeluarkan bau hanya sebiji.
 Agak sukar untuk memahami konsep ada tetapi tidak ada, tiada bersama tetapi tidak berpisah. Inilah konsep ketuhanan yang tidak mampu dipecahkan oleh akal tanpa penerangan nur yang dari lubuk hati. Mata hati yang diterangi oleh Nur Ilahi dapat melihat perkaitan antara ada dengan tidak ada, tidak bersama tetapi tidak berpisah. Atas kekuatan hatinya menerima sinaran Nur Ilahi menentukan kekuatan mata hatinya melihat kepada keghaiban yang tidak berpisah dengan kejadian alam ini. Ada 4 tingkatan pandangan mata hati terhadap perkaitan alam dengan Allah s.w.t yang menciptakan alam.
1:  Mereka yang melihat Allah s.w.t dan tidak melihat alam ini. Mereka adalah umpama orang yang hanya melihat kepada api, bulatan api yang khayali tidak menyilaukan pandangannya. Walaupun mereka berada di tengah-tengah kesibukan makhluk namun, mata hati mereka tetap tertumpu kepada Allah s.w.t, tidak terganggu oleh kekecuhan makhluk. Lintasan makhluk hanyalah umpama cermin yang ditembusi cahaya. Pandangan mereka tidak melekat pada cermin itu.
2:  Mereka yang melihat makhluk pada zahir tetapi Allah s.w.t pada batin. Mata hati mereka melihat alam sebagai penzahiran sifat-sifat Allah s.w.t. Segala yang maujud merupakan kitab yang menceritakan tentang Allah s.w.t. Tiap satu kewujudan alam ini membawa sesuatu makna yang menceritakan tentang Allah s.w.t.
3:  Mereka yang melihat Allah s.w.t pada zahirnya sementara makhluk tersembunyi. Mata hati mereka terlebih dahulu melihat Allah s.w.t sebagai Sumber kepada segala sesuatu, kemudian baharulah mereka melihat makhluk yang menerima kurniaan daripada-Nya. Alam tidak lain melainkan perbuatan-Nya, gubahan-Nya, lukisan-Nya atau hasil kerja Tangan-Nya.
4:  Mereka yang melihat makhluk terlebih dahulu kemudian baharulah melihat Allah s.w.t. Mereka memasuki jalan berhati-hati dan berwaspada, memerlukan masa untuk menghilangkan keraguan, berdalil dengan akal sehingga kesudahannya ternyatalah akan Allah s.w.t yang Wujud-Nya menguasai wujud makhluk.

 Selain yang dinyatakan di atas tidak lagi dipanggil orang yang melihat Allah s.w.t. Gambar-gambar alam, syahwat, kelalaian dan dosa  menggelapkan cermin hati mereka hingga tidak mampu menangkap cahaya yang membawa kepada makrifat. Mereka gagal  untuk melihat Allah s.w.t sama ada di dalam sesuatu, di samping sesuatu, sebelum sesuatu atau sesudah sesuatu. Mereka hanya melihat makhluk seolah-olah makhluk berdiri dengan sendiri tanpa campur tangan Tuhan.
 Anasir alam dan sekalian peristiwa yang berlaku merupakan perutusan yang membawa perkhabaran tentang Allah s.w.t. Perkhabaran itu bukan didengar dengan telinga atau dilihat dengan mata atau difikir dengan akal. Ia adalah perkhabaran ghaib yang menyentuh jiwa. Sentuhan tangan ghaib pada jiwa itulah yang membuat hati mendengar tanpa telinga, melihat tanpa mata dan merenung tanpa akal fikiran. Hati hanya mengerti setiap perutusan yang disampaikan oleh tangan ghaib kepadanya dan hati menerimanya dengan yakin. Keyakinan itu menjadi kunci kepada telinga, mata dan akal. Apabila kuncinya telah dibuka, segala suara alam yang didengar, sekalian anasir alam yang dilihat dan seluruh alam maya yang direnungi akan membawa cerita tentang Tuhan. Abid mendengar, melihat dan merenungi Keperkasaan Tuhan. Asyikin mendengar, melihat dan merenungi keindahan Tuhan. Muttakhaliq mendengar, melihat dan merenungi kebijaksanaan dan kesempurnaan Tuhan. Muwahhid mendengar, melihat dan merenungi keesaan Tuhan.
Iaitu hari mereka keluar (dari kubur masing-masing) dengan jelas nyata; tidak akan tersembunyi kepada Allah sesuatupun darihal keadaan  mereka. (Pada saat itu Allah berfirman): “Siapakah yang menguasai kerajaan pada hari ini?” (Allah sendiri menjawab): “Dikuasai oleh Allah Yang Maha Esa, lagi Yang Maha Mengatasi kekuasaan-Nya segala-galanya!” ( Ayat 16 : Surah Mu’min )
Mereka telah mendustakan mukjizat-mukjizat Kami semuanya, lalu Kami timpakan azab seksa kepada mereka sebagai balasan dari Yang Maha Perkasa, lagi Maha Kuasa. ( Ayat 42 : Surah al-Qamar )
Ayat-ayat  seperti yang di atas menggetarkan jiwa abid. Hati abid sudah ‘berada’ di akhirat. Alam dan kehidupan ini menjadi ayat-ayat atau tanda-tanda untuknya melihat keadaan dirinya di akhirat kelak, menghadap Tuhan Yang Esa, Maha Perkasa, tiada sesuatu yang tersembunyi daripada-Nya.
Dialah yang telah mengaturkan kejadian tujuh petala langit yang berlapis-lapis; engkau tidak dapat melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah itu sebarang keadaan yang tidak seimbang dan tidak munasabah; (jika engkau ragu-ragu) maka ulangi pandangan(mu) - dapatkah engkau melihat sebarang kecacatan? Kemudian ulangilah pandangan(mu) berkali-kali, nescaya pandangan(mu) itu akan berbalik kepadamu dengan hampa (daripada melihat sebarang kecacatan), sedang ia pula berkeadaan lemah lesu (kerana habis tenaga dengan sia-sia). ( Ayat 3 & 4 : Surah al-Mulk )
Asyikin memandang kepada alam ciptaan dan dia mengulang-ulangi pemandangannya. Semakin dia memandang kepada alam semakin dia melihat kepada keelokan dan kesempurnaan Pencipta alam. Dia asyik dengan apa yang dipandangnya.
Dialah Allah, Yang Menciptakan sekalian makhluk; Yang Mengadakan (dari tiada kepada ada); Yang Membentuk rupa (makhluk-makhluk-Nya menurut yang dikehendaki-Nya); bagi-Nya jualah nama-nama yang sebaik-baiknya dan semulia-mulianya; bertasbih kepada-Nya segala yang ada di langit dan di bumi; dan Dialah Yang tidak ada tuluk banding-Nya, lagi Maha Bijaksana. ( Ayat 24 : Surah al-Hasy-r )
Muttakhaliq menyaksikan sifat-sifat Tuhan yang dikenal dengan nama-nama yang baik. Alam adalah perutusan untuknya mengetahui nama-nama Allah s.w.t dan sifat-sifat Kesempurnaan-Nya. Setiap yang dipandang menceritakan sesuatu tentang Allah s.w.t.
Sesungguhnya Akulah Allah; tiada Tuhan melainkan Aku; oleh itu sembahlah akan Daku, dan dirikan sembahyang untuk mengingati Daku. ( Ayat 14 : Surah Taha )
Muwahhid fana dalam Zat. Kesedaran dirinya hilang. Melalui lidahnya muncul ucapan-ucapan seperti ayat di atas. Dia mengucapkan ayat-ayat Allah s.w.t, bukan dia bertukar menjadi Tuhan.
 Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Yang Menguasai pemerintahan hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) yang kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang  yang sesat.
( Ayat 1 – 7 : Surah al-Faatihah )
Mutahaqqiq kembali kepada kesedaran keinsanan untuk memikul tugas membimbing umat manusia kepada jalan Allah s.w.t. Hatinya sentiasa memandang kepada Allah s.w.t dan bergantung kepada-Nya. Kehidupan ini adalah medan dakwah baginya. Segala anasir alam adalah alat untuk dia memakmurkan bumi.
 Apabila Nur Ilahi menerangi hati apa sahaja yang dipandang akan kelihatanlah Allah s.w.t di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya

PENGAJIAN KITAB SYARAH AL HIKAM

HIJAB YANG HALANG PERJALANAN

BAGAIMANA HATI AKAN DAPAT DISINARI SEDANGKAN GAMBAR-GAMBAR ALAM MAYA MELEKAT PADA CERMINNYA, ATAU BAGAIMANA MUNGKIN  BERJALAN KEPADA ALLAH S.W.T SEDANGKAN DIA MASIH DIBELENGGU OLEH SYAHWATNYA, ATAU BAGAIMANA AKAN MASUK KE HADRAT ALLAH S.W.T SEDANGKAN DIA MASIH BELUM SUCI DARI JUNUB KELALAIANNYA, ATAU BAGAIMANA MENGHARAP UNTUK MENGERTI RAHSIA-RAHSIA YANG HALUS SEDANGKAN DIA BELUM TAUBAT DARI DOSANYA (KELALAIAN, KEKELIRUAN DAN KESALAHAN).
Hikmat 12 memberi penekanan tentang uzlah iaitu mengasingkan diri. Hikmat 13 ini pula memperingatkan bahawa uzlah tubuh badan sahaja tidak memberi kesan yang baik jika hati tidak ikut beruzlah. Walaupun tubuh badan dikurung hati masih boleh disambar oleh empat perkara:
       1:  Gambaran, ingatan, tarikan dan keinginan terhadap benda-benda alam seperti harta, perempuan, pangkat dan lain-lain.
       2:  Kehendak atau syahwat yang mengarahkan perhatian kepada apa yang dikehendaki.
       3: Kelalaian yang menutup ingatan terhadap Allah s.w.t.
       4:  Dosa yang tidak dibasuh dengan taubat masih mengotorkan hati.

Diri manusia  tersusun daripada anasir tanah, air, api dan angin. Ia juga diresapi oleh unsur-unsur alam seperti galian, tumbuh-tumbuhan, haiwan, syaitan dan malaikat. Tiap-tiap anasir dan unsur itu menarik hati kepada diri masing-masing. Tarik menarik itu akan menimbulkan kekacauan di dalam hati. Kekacauan itu pula menyebabkan hati menjadi keruh. Hati yang keruh tidak dapat menerima sinaran nur yang melahirkan iman dan tauhid. Mengubati kekacauan hati adalah penting untuk membukakannya bagi menerima maklumat dari Alam Malakut. Hati yang kacau itu boleh distabilkan dengan cara menundukkan semua anasir dan unsur tadi kepada syariat. Syariat menjadi tali yang dapat mengikat musuh-musuh yang cuba menawan hati. Penting bagi seorang murid yang menjalani jalan kerohanian menjadikan syariat sebagai payung yang mengharmonikan perjalanan anasir-anasir dan daya-daya yang menyerap ke dalam diri agar cermin hatinya bebas daripada gambar-gambar alam maya. Bila cermin hati sudah bebas daripada gambar-gambar dan tarikan tersebut, hati dapat menghadap ke Hadrat Ilahi.
 Selain tarikan benda-benda alam, hati boleh juga tunduk kepada syahwat. Syahwat bukan sahaja rangsangan hawa nafsu yang rendah. Semua bentuk kehendak diri sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah s.w.t adalah syahwat. Kerja syahwat adalah mengajak manusia supaya lari dari hukum dan peraturan Allah s.w.t serta membangkang takdir Ilahi. Syahwat membuat manusia tidak reda dengan keputusan Allah s.w.t. Seseorang yang mahu menuju Allah s.w.t perlulah melepaskan dirinya dari belenggu syahwat dan kehendak diri sendiri, lalu masuk ke dalam benteng aslim iaitu berserah diri kepada Allah s.w.t dan reda dengan takdir-Nya.
 Perkara ke tiga yang dibangkitkan oleh Hikmat ke tiga belas ini ialah kelalaian yang diistilahkan sebagai junub batin. Orang yang berjunub adalah tidak suci dan dilarang melakukan ibadat atau memasuki masjid. Orang yang berjunub batin pula tertegah dari memasuki Hadrat Ilahi. Orang yang di dalam junub batin iaitu lalai hati, kedudukannya seperti orang yang berjunub zahir, di mana amal ibadatnya tidak diterima. Allah s.w.t mengancam untuk mencampakkan orang yang bersembahyang dengan lalai (dalam keadaan berjunub batin)  ke dalam neraka wil. Begitu hebat sekali ancaman Allah s.w.t kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.
 Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah s.w.t kepada orang yang lalai? Bayangkan hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk kita yang zahir. Hati yang khusyuk adalah umpama orang yang menghadap Allah s.w.t dengan mukanya, duduk dengan tertib, bercakap dengan sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Maharaja Yang Maha Agung. Hati yang lalai pula adalah umpama orang yang menghadap dengan belakangnya, duduk secara biadab, bertutur kata tidak tentu hujung pangkal dan kelakuannya sangat tidak bersopan. Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Jika raja didunia murka dengan perbuatan demikian maka Raja kepada sekalian raja-raja lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang biadab itu dan layaklah jika si hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wil. Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu bersopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya yang layak masuk ke Hadrat-Nya, sementara hamba yang lalai, tidak tahu bersopan santun tidak layak mendekati-Nya.
 Perkara yang ke empat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ia menghalang seseorang daripada memahami rahsia-rahsia yang halus-halus. Pintu kepada Perbendaharaan Allah s.w.t yang tersembunyi adalah taubat! Orang yang telah menyuci-bersihkan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahsia Allah s.w.t selagi dia belum bertaubat, samalah seperti orang yang mati syahid yang belum menjelaskan hutangnya terpaksa menunggu di luar syurga. Jika dia mahu masuk ke dalam Perbendaharaan Allah s.w.t yang tersembunyi yang mengandungi rahsia yang halus-halus wajiblah bertaubat. Taubat itu sendiri merupakan rahsia yang halus. Orang yang tidak memahami rahsia taubat tidak akan mengerti mengapa Rasulullah s.a.w yang tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon keampunan sedangkan sekalipun baginda s.a.w  berdosa semuanya diampunkan Allah s.w.t. Adakah Rasulullah s.a.w tidak yakin bahawa Allah s.w.t mengampunkan semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan baginda s.a.w (jika ada)?
 Maksud taubat ialah kembali, iaitu kembali kepada Allah s.w.t. Orang yang melakukan dosa tercampak jauh daripada Allah s.w.t. Walaupun orang ini sudah berhenti melakukan dosa malah dia sudah melakukan amal ibadat dengan banyaknya namun, tanpa taubat dia tetap tinggal berjauhan dari Allah s.w.t. Dia telah masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal salih tetapi yang berjauhan bukan berdekatan dengan Allah s.w.t. Taubat yang lebih halus ialah pengayatan kalimat:

Tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah s.w.t.
Kami datang dari Allah s.w.t dan kepada Allah s.w.t kami kembali.
 Segala sesuatu datangnya dari Allah s.w.t, baik kehendak mahupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba). Apa sahaja yang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa sahaja yang terbit dari ubudiyah adalah tidak sempurna. Uluhiyah membekalkan kesempurnaan tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu. Jadi, ubudiyah berkewajipan mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon keampunan dan bertaubat sebagai menampung kecacatan. Segala urusan dikembalikan kepada Allah s.w.t. Semakin tinggi makrifat seseorang hamba semakin kuat ubudiyahnya dan semakin kerap dia memohon keampunan dari Allah s.w.t, mengembalikan setiap urusan kepada Allah s.w.t, sumber datangnya segala urusan.
Apabila hamba mengembalikan urusannya kepada Allah s.w.t maka Allah s.w.t sendiri yang akan mengajarkan Ilmu-Nya yang halus-halus agar kehendak hamba itu bersesuaian dengan Iradat Allah s.w.t, kuasa hamba sesuai dengan Kudrat Allah s.w.t, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah s.w.t dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah s.w.t, dengan itu jadilah hamba mendengar kerana Sama’ Allah s.w.t, melihat kerana Basar Allah s.w.t dan berkata-kata kerana Kalam Allah s.w.t. Apabila semuanya berkumpul pada seorang hamba maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahsia Allah s.w.t).