Friday, July 1, 2011

KISAH-KISAH PENGAJARAN DALAM ISLAM

PERGOLAKAN DI ANTARA
DUA FAHAMAN

Ada dua orang bersaudara di antara golongan Bani Israil juga. Keduanya bersaudara kandung. Tetapi hairan, satu sama lain bertentangan dalam pendapat dan pandangan hidup, bertentangan faham dan ideologi; ibarat buah sepohon dan sekebun tempat tumbuhnya, tetapi rasa, yang sebiji manis, sedang yang sebiji lagi pahit sepahit-pahitnya.
Yahuza, demikianlah nama salah seorang di antara kedua orang yang bersaudara itu. Dia ini adalah seorang yang mukmin dan mendasarkan hidup dan perjuangannya kepada dasar ketuhanan. Tahu akan darjat diri tempat di mana dia hidup sekarang menjelang matinya. Sifatnya pemaaf dan pemurah hati, penyantun terhadap sesama dan suka merendahkan diri, tidak terlalu tergoda oleh keriang-gembiraan dunia dan hartabenda kekayaan.
Yang seorang lagi dari kedua orang itu bernama Qutrusy. Dia tidak mahu mengenal Tuhan dan hari Akhirat. Hidupnya dalam kekafiran tanpa agama, hanya berpedoman kepada otaknya sendiri saja. Sifatnya kasar dan bakhil sekali, selalu menganggap dirinya lebih pintar dan lebih kuasa dari semua orang. Ia selalu memandang rendah kepada orang dan golongan lain, lebih-lebih kepada orang yang beriman kepada Allah dan senantiasa beribadat.
Setelah bapa kedua orang bersaudara ini menjadi tua dan dekat waktunya meninggal dunia, kedua anaknya itu dipanggilnya. Sang bapa merasa khuatir bila dia meninggal dunia kalau-kalau kedua anaknya ini akan berebutan harta peninggalannya yang begitu banyak dan berselisihan. Agar perselisihan yang tidak diharapkannya itu jangan sampai terjadi, maka di saat itu juga semua harta-benda kekayaannya yang banyak itupun, dibahagikannya sama banyak antara kedua anaknya itu. Sesudah dibahaginya sama rata, masing-masing merdeka memperbanyak dan menghabiskan hartanya itu sekehendak hati mereka.
Adapun Yahuza telah menetapkan niat dan rencana dalam hatinya, akan menggunakan harta yang diterimanya itu untuk keperluan segala sesuatu yang diredhai Allah, sebagai tanda bakti dan taatnya kepada Tuhan, tanda syukur dan berterimakasih kepada Allah. Dia akan gunakan segala harta dan wang yang ada padanya itu untuk membeli dan menebus Syorga yang dijanjikan Allah.
Harta itu selalu dipergunakannya untuk menolong orang-orang yang sengsara hidupnya, orang-orang yang lapar dan dahaga kerana miskinnya. Dia mendirikan jambatan dan memperbaiki jalan yang rusak untuk dilalui orang banyak, serta dia membantu orang-orang yang mendapat kecelakaan dan yang ditimpa bahaya.
Tidaklah hairan kalau hartanya itu bukan semakin bertambah banyak, malah semakin sedikit dan akhirnya habis samasekali; tetapi Yahuza tetap tenang dan sabar. Dicukupkannya apa-apa yang dapat dicarinya sehari-hari untuk penghidupannya, bahkan kadang-kadang dia tidak mendapatkan apa-apa untuk dimakannya, lalu dia berpuasa tanda dia bermohon kepada Allah agar diberi rezeki. Bila dia mendapat rezeki yang agak banyak, maka bertambah-tambah syukur dan ibadatnya kepada Allah. Tidak jemu-jemunya lidah serta anggota tubuhnya menyebut dan menyembah Allah.
Adapun Qutrusy dengan harta pusaka yang diperolehnya itu semakin bertambah lupa dia kepada Tuhan, kerana asyik mengurus harta dan kekayaannva itu saja. Dengan tidak kenal penat dan lelah, siang dan malam tidak ada yang difikirkannva. selain bagaimana caranya untuk menjadikan harta yang banyak itu agar menjadi lebih banyak lagi.
Satu sen pun dia tidak mahu memberikan hartanya itu kepada orang-orang yang bagaimana juga melarat dan miskinnya, apalagi untuk keperluan sosial dan umum, sedikitpun tidak pernah waktunya dipergunakan untuk mengingat dan menyembah Allah, sebab fikirnya, menyebut dan menyembah Allah itu membuang-buang waktu kepada yang tak berguna dan tidak mendatangkan hasil saja, dapat merugikan diri sendiri dan berbodoh-bodoh. Telinganya ditutupnya serapat-rapatnya, bila mendengar suara orang yang meminta, pintu rumahnya dikunci serapat-rapatnya bila ada orang yang mengharapkan bantuan dan pertolongan, hanya dibuka selebar-lebarnva bagi orang yang akan menambah untung dan kekayaan semata.
Dengan hartanya itu, dia berhasil membangun dua buah kebun vang besar dan luas. Mengurus dan memajukan kedua kebun itulah segala umur dan kekayaannya ditumpahkan. Kebun itu teratur rapi, bersih dan menghijau. Tumbuh di dalamnya berbagai-bagai tanaman yang selalu mendatangkan hasil yang berlipat ganda; di tengah-tengahnya dibuatnya taman dan jalan-jalan yang bersimpang-siur, sedang di kelilingnya berdiri rumah-rumah tempat tinggal sebagai istana layaknya, enak dipandang mata, sejuk perasaan bila memasukinya, seakan-akan syurga di atas dunia. Tidak kurang pula dengan sungai-sungainya yang mengalir air jernih, untuk diminum dan tempat mandi bersenang-senang.
Buahnya lebat lazat dan nyaman kalau dimakan, daunnya yang rimbun segar itu dipergunakan untuk berteduh dan berlindung di kala musim panas.
Semua orang tertarik akan kebun yang moden itu, hal mana menambah banyak hasil yang diperoleh daripadanya. Qutrusy tidak bosan-bosannya memandang dan mengurus kebun yang cantik molek dan mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit itu. Siang-malam dengan asyiknya dia keluar-masuk kebun itu, untuk memandang buah-buahan yang lebat dan warnanya yang menghijau. Kekayaannya makin berlimpah-limpah, hidupnya semakin senang dan bahagia rasanya. Dia dianugerahi Allah pula beberapa orang anak yang sihat-sihat serta gagah-gagah.
Tetapi dengan semua nikmat dan anugerah Allah itu, hidupnya semakin lupa dan jauh dari Allah, kesombongan dan kebongkakkannya semakin menghebat, kebakhilannya pun menjadi berlipat-ganda pula. Tidak pernah lidahnya dipergunakan untuk mensyukuri nikmat Allah itu dan tidak pernah pula dahinya direndahkan untuk menyembah dan beribadat.
Kebunnya makin diperluas dan diperluas juga, rumah-rumah dan istana yang ditempatinya dipertinggi dan dipermoden pula, orang gajinya makin diperbanyak. Tetapi semakin senang dan kaya, dia semakin kafir dan lupa kepada Tuhan yang telah menjadikan dirinya dan hartabenda sebanyak itu. Pada suatu hari, setelah lama tak berjumpa kedua orang bersaudara iaitu Qutrusy dan Yahuza, mereka bertemu pada suatu tempat. Alangkah terkejutnya Qutrusy melihat saudaranya yang berpakaian compang-camping itu. Matanya mengejek, mulutnya segera menegur saudaranya itu: Ke mana perginya harta dan kekayaanmu itu? Ke mana perginya emas dan perakmu? Sekarang ternyatalah akan kebodohanmu dan kepintaran diriku. Engkau hidup melarat dan compang-camping. Tidak mempunyai teman dan tak akan dipandang oleh orang banyak sedikitjuga.
Adapun keadaanku boleh kau lihat sendiri. Hidupku senang, bahagia selamanya. Banyak harta dan anak keturunan, banyak teman dan pembantu. Cubalah masuk ke dalam kebunku ini, lihatlah di sana pemandangan dan hasilnya, daunnya yang rimbun menghijau, buah-buahannya yang lebat dan lazat. Jalan-jalan dan rumah-rumahna yang cantik dan teratur, sungai-sungainya yang senantiasa mengalir tidak kering-keringnya. Setiap hari dan bulan terus-menerus mendatangkan hasil dan keuntungan.
Adapun engkau ini selalu memikirkan Tuhan dan Akhirat saja. Aku tidak perlu tahu tentang Tuhan dan Akhirat itu. Akupun tidak perlu Syorga yang dijanjikan Allah, sebagai katamu selama ini. Aku ini sudah dapat membuat Syorgaku sendiri dengan kepintaran dan tenagaku sendiri.
Mendengar itu Yahuza menjawab dengan tenang:
Engkau sudah kafir mengengkari Allah, sudah tidak percaya alam akhirat, Engkau sudah tidak percaya akan hidup kembali sesudah matimu di alam fana ini, di alam mana engkau akan dihisab dan diperhitungkan segala amal perbuatanmu. Tidakkah engkau tahu siapa yang telah menjadikan manusia ini pada mulanya dari bahan tanah, kemudian dari setetes air dirahim ibu, yang kemudian lalu berubah menjadi segumpal darah, jadi berdaging dan bertulang? Berbentuk berupa, kemudian diberinya roh atau jiwa.
Maka lahirlah ke alam dunia menjadi bayi, akhirnya menjadi manusia yang bertenaga sebagai engkau ini.
Apakah engkau tidak percaya, bahawa Tuhan yang telah dapat menciptakan manusia dengan jalan demikian itu, tidak akan dapat menciptakan alam akhirat sebagai ajaran agama Tuhan itu?
Semua itu mudah sekali bagi Tuhan Yang Maha Kuasa. Tetapi engkau tidak mengakui ini, kerana mata hatimu sudah ditutup serapat-rapatnya oleh keengkaranmu sendiri, sehingga semua itu kau lupakan dan tidak mahu memikirkannya. Engkau hanya memikirkan wang dan kekayaanmu saja. Pendirianmu itu sajalah yang dapat engkau benarkan. Pendirian orang yang beriman, walaupun dengan alasan yang bagaimana juga banyak dan nyatanya, tetap kau tolak, kau engkari dan kau dustakan.
Dengan pendirianmu yang demikianlah engkau telah menghina memandangku rendah, kerana kemiskinanku. Engkau menganggap dirimu lebih benar dari aku kerana hartamu yang lebih banyak itu. Aku dengan kemiskinanku ini lebih kaya daripadamu dengan kekayaanmu itu. Kekayaan yang sebenarnya, tidak terbatas pada wang dan harta saja, sedang engkau memandang kekayaan itu hanya dari segi wang dan harta saja. Kerananya, seluruh tenaga dan fikiranmu itu dikerahkan ke arah wang dan harta saja. Kekayaan yang sebenarnya, adalah terletak dalam perasaan, merasa cukup apa yang ada.
Itu emas dan perak, perhiasaan yang berupakan intan dan berlian, kebun-kebun yang luas dan tanaman-tanaman di atasnya, menurut pandanganku adalah ibarat biji yang tumbuh di atas tanah, ada masanya tumbuh dan subur, tetapi ada pula masanya layu dan mati. Begitu pula ada masanya berada dan akan datang masanya habis dan lenyap kesemuanya itu, dikeranakan oleh terik panas matahari, atau kerana dilanda banjir, atau ditiup angin taufan.
Adapun orang-orang sebanyak itu yang menjadi budakmu, menjadi pekerja dan buruh yang selalu kau sombong-sombongkan itu, belum tentu akan dapat engkau pekerjakan atau menolong bila engkau sedang ditimpa bahaya hebat, malah mungkin merekalah nanti yang akan mencelakakan dirimu sendiri.
Adapun aku ini hanya ingin ditolong oleh Tuhan, iaitu menjadi kawan Tuhan, bukan menjadi musuhnya Tuhan.
Buat aku nikmat yang paling penting, bukan harta dan kekayaan, tetapi adalah kesihatan badan dan hidup selalu dalam keredhaan Allah; asal diredhai Allah, aku tidak takut dimusuhi manusia. Asal dapat aku memperoleh Syorga yang dijanjikan Allah itu, aku rela sekalipun hidupku miskin di atas dunia yang fana ini, kerana hanya kebahagiaan hidup di dalam Syorga itu sajalah yang bakal kekal
selama-lamanya. Adapun kebahagiaan dunia ini, hanya terbatas dalam jangka waktu yang amat singkat saja.
Sekalipun kebun dan kekayaanmu itu berlimpah-limpah, serta terjaga rapi oleh penjaga-penjaga yang engkau beri upah, tetapi siapakah gerangan yang akan dapat menjaganya dari bahaya badai dan banjir besar? Siapakah yang dapat menjaganya dari hawa panas terik, sehingga kesemuanya menjadi kering? Itu air yang mengalir di dalam kebunmu, dapat menghidupkan dan menyuburkan tanaman dan binatang-binatang ternakmu, tetapi air itupun sewaktu-waktu dapat juga menghancurkan dan memusnahkan segala yang engkau tanam dan pelihara itu. Segala sesuatu mudah terjadi, bila telah dikehendaki oleh Allah yang menjadikan semua itu; kalau engkau tidak mahu patuh, tunduk dan selalu bertindak memusuhi terhadap Tuhan yang Maha Kuasa itu.
Sehabis berkata-kata demikian, Yahuza segera meninggalkan tempat itu, meninggalkan saudaranya yang sudah nyata tidak akan menerima segala nasihat yang bagaimanapun juga baik dan jujurnya. Qutrusy segera pula kembali ke dalam kebunnya. Dia kembali asyik dengan harta kekayaannya saja, dia lupa akan semua nasihat yang didengar dari mulut saudaranya itu.
Pada suatu hari, tidak lama setelah pertemuan dengan saudara-setelah dia bangun dari tidurnya pagi-pagi benar, sebagainya itu, kebiasaannya, segera dia keluar menuju kebunnya yang tak sedikit juga dari ingatannya, untuk bersenang-senang dan melihat segala kekayaan yang menjadi penghibur hatinya.
Alangkah terkejut dan terperanjatnya, setelah dilihatnya bahawa semua tanaman-tanamannya yang subur dan menghijau itu, kesemuanya telah menjadi kering dan mati. Setetes air, sedikit angin pun tidak berhembus lagi di tempat itu.
Melihat pemandangan itu, kering lidah dan mulutnya, gemetar sekujur badannya, lemah lunglai semua persendian dan tulangnya. Dia rebah ke tanah tidak bertenaga lagi. Dengan susah-payah dia menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit, menunjukkan akan penyesalan dalam hatinya, dia merasa rugi atas segala dan susahpayahnya selama ini. Disanalah dia mengeluh dengan suaranya yang sayup-sayup kedengaran: Aku menyesal akan kemusyrikanku dan telah mengengkari Tuhan ! Sesalnya ini sudah terlambat, sesal kemudian sungguh-sungguh tidak ada gunanya samasekali !


No comments:

Post a Comment