MENYANGGAH HAK FAKIR MISKIN
Baru saja fajar menyingsing di ufuk timur, orang tua yang telah bongkok punggungnya dan lemah persendiannya itu, lalu bangun dari tidurnya. Dengan langkah yang tenang dan nafas yang sesak, sambil memegang tongkat ditangannya, orang tua itu keluar dari rumahnya, menuju ke kebunnya. Sebelum matahari terbit, sudah pasti dia berada dalam kebunnya itu setiap pagi, untuk bekerja, menjaga dan memelihara kebunnya itu.
Dengan kerajinannya yang ditumpahkan terhadap kebunnya itu, maka tidaklah hairan bila kebun itu sangat baik dan teratur, subur tanamannya, serta banyak sekali buah-buahan yang dihasilkan setiap tahunnya.
Semua orang senang melihat kebun itu. Malah disanalah mereka sering melepaskan lelah dan bersenang-senang, sambil menghirup hawa sejuk pada waktu pagi mahupun petang, apalagi bila sedang teriknya panas matahari orang-orang sama berteduh di bawah pohon-pohon kayu yang terdapat dalam kebun itu, sambil melepaskan pemandangan yang indah di sekitarnya.
Setelah orang tua itu selesai menilik dan memelihara kebunnya, iaitu memeriksa buahnya yang masih putik dan yang sudah matang, melihat kembang-kembangnya yang masih kuncup dan yang sudah merkah. Setelah dia mendengar bunyi burung-burung yang juga sama merasa bahagia tinggal dalam kebun itu, baru dia pulang ke rumahnya, lalu bersembahyang dan bersujud syukur terhadap Allah yang telah memberikan nikmat yang demikian berharga kepadanya dan dia bermohon ke hadhrat Allah agar dipelihara oleh Allah dari segala dosa yang mungkin timbul dari kekayaan yang ada padanya, minta agar dia dijauhkan Tuhan dari fitnah kesenangan dunia, serta pengaruh syaitan dan hawa nafsu.
Demikianlah cara hidupnya orang tua itu, sejak waktu mudanya sampai menjadi tua seperti sekarang ini. Begitu adanya di waktu pagi dan petang, di waktu malam berganti siang. Dan bila waktu memetik buah dari kebunnya itu sudah datang, dipanggilnyalah tukang-tukang kebun dan orang-orang pekerjanya untuk bekerja menyediakan sabit dan keranjang, dipanggilnya pula segala kaum fakir miskin untuk menolong. Setelah selesai dari memetik buah hasil perkebunannya itu, mereka masing-masing diberinya upah menurut hasil tenaga mereka masing-masing. Diberi pula sewa sabit dan keranjang yang mereka bawa. Kemudian, bila hasil itu sampai nisabnya semua fakir miskin itu dipanggil untuk menerima bahagian mereka masing-masing, sebagai zakat dari hasil bumi itu.
Demikianlah halnya saban tahun, sehingga dengan kebun yang besar dan luas kepunyaan orang tua itu dapatlah semua orang yang tidak berpunya di sekitar kampung itu ikut serta mengecap hasilnnya, sehingga mereka tidak khuatir atas kemiskinan mereka dan tidak dengki atas kekayaan orang tua itu.
Tetapi anak-anak dari orang tua itu yang sekarang ini sudah agak besar-besar, berakal dan berfikir pula, maka adat kebiasaan orang tua yang sebaik itu dibantah dan disanggah mereka, tidak suka kalau hasil kebunnya itu dibagi-bagikan kepada orang fakir miskin begitu rupa saban tahun.
Salah seorang dari anak-anaknya itu berkata: Bapaku, bila saban orang yang miskin diberi, tiap orang yang minta-minta dikasih begitu rupa, maka itu bererti bahawa bapa sudah mengurangi hak-hak kami kerana makin sedikit hasil yang kami peroleh dari kebun kita itu. Berkata pula seorang lainnya: Hai bapa, kalau terus-menerus begitu, akhirnya habislah semua kekayaan kita dan hasil perkebunan kita ini, sepeninggal bapak nanti, kami ini semua pasti melarat dan terpaksa mengemis kepada orang lain.
Mendengar segala sanggahan itu, tampil pula anak yang ketiga, Dengan segala keterangan dan kesabaran anak yang tinggi mutunya ini lalu berkata: Semua yang kamu ucapkan itu adalah berdasarkan fikiran yang salah semata, berdasarkan perhitungan manusia yang membelok dari kebenaran dan hanya dengan sangkaan-sangkaan belaka. Kamu tidak tahu akan apa yang sebenarnya harta kekayaan dunia itu. Harta itu bukan hanya harta kepunyaan saya dan kepunyaanmu saja. Kebun kita yang luas itu, bukan hanya kebun kita. Tetapi adalah harta dan kebun Allah, yang diamanatkan Allah kepada kita untuk menyelenggarakannya, dengan perjanjian dan aturan Allah, bahawa semua hasilnya itu dipergunakan sebaik-baiknya kepada yang lebih memberi manfaat, dengan tidak boleh melupakan hak orang-orang fakir dan miskin, orang yang terlantar dan kekurangan syarat hidup atau dalam perjalanan. Sebahagian lagi untuk burung-burung yang datang ke dalam kebun ini. Burung-burung itupun mempunyai hak, kerana ada pula jerih dan jasanya terhadap kebun itu. Sebab itu janganlah hak-hak orang fakir dan miskin itu dihalang-halangi dan disanggah. Salah benar perbuatan kita bila menyanggah aturan Allah.
Bapa mereka yang sudah tua dan tidak berdaya lagi itupun turut bernasihat: Aku sudah tua, kekuatanku sudah habis, tulang-belulangku sudah terasa kaku dan aku tidak lama lagi akan pergi meninggalkan kamu sekalian. Nasihat dan fatwaku yang penghabisan, ialah agar kamu sekalian yang menerima kebun itu sebagai pusaka dariku, pandai-pandailah mempergunakan nikmat dan pemberian Allah itu. Dua kalimat sebagai amanatku hendaklah kamu tanamkan dalam ingatanmu, jangan sampai dilupakan dan dilanggar: Bila kamu dapat mempergunakan nikmat itu dengan baik, sepanjang aturan Allah akan menambah nikmatNya atas kamu sekalian. Tetapi bila kamu bakhil dan mempergunakan nikmat itu dengan cara yang salah, Tuhan tentu akan kuasa mencabut nikmatNya itu dengan sekaligus. Kamu sekalian tidak akan luput dari tinjauan Allah atas segala perbuatanmu, Dari itu hendaklah kamu berhati-hati.
Tidak lama kemudian, orang tua yang baik itupun meninggal dunia, semua kekayaan dan kebun itu menjadi hak anak-anaknya itu, sebagai pusaka.
Hari berganti bulan, semua tanaman-tanaman dari kebun itu dengan buah-buahannya yang lebat dan subur, semakin mendekati hari untuk dipetik hasilnya. Musim yang sekarang ini lebih baik dari musim musim sebelumnya, berkat nikmat dan pemberian Allah terhadap anak-anak itu. Datanglah masanya untuk memetik segala hasilnya.
Di kala itupun mereka berkumpul. Yang terbesar di antara mereka mulai berkata dalam pertemuan itu: Mulai saat ini tidak ada hak lagi bagi fakir miskin dan orang-orang yang mengemis atas hasil kebun kita ini. Semua hasil itu akan kita bagi sama banyak antara kita saja, juga merdeka untuk mempergunakan bagian kita masing-masing, menurut kehendaknya masing-masing pula, baik untuk disimpan mahupun ditukarkan. Tetapi kalau bahagian itu kita simpan bersama-sama dan tidak disedekahkan kepada siapapun juga, pasti kita akan semakin kayaraya dan harta kita akan selalu bertambah banyak.
Anak yang saleh antara anak-anak itupun lalu menjawab: "Engkau merencanakan sebuah rencana yang baik menurut fikiranmu, tetapi yang sebenarnya salah dan pasti membawa keburukan dalam
masyarakat ini. Rencana yang engkau kira akan membawa manfaat itu, sebenarnya akan menimbulkan siksa dan bencana saja. Cuba, kalau hak fakir miskin itu kamu sanggah dan kamu langgar, akan timbullah perasaan hasad dan dengki dikalbu mereka, Akhirnya kita tidak akan merasakan keamanan lagi dalam hidup kita, sebab mungkin mereka akan memberontak terhadap kita. Sebab itu, janganlah rencanamu itu dijalankan dan mari kita kembali kepada rencana yang sudah diamanatkan almarhum bapa kita sendiri, dengan cara memberikan haknya fakir miskin, dengan tidak menguranginya sedikit juga. Sesudah hak mereka kita keluarkan, maka yang tinggal itu adalah hak kita, hak yang diredhai Allah dan akan penuh dengan berkat.
Mendengar pendapat anak yang saleh ini, mereka sama berteriak dengan suara keras menyanggahkan: "Jangan kau kemukakan rencanamu itu, berhentilah kamu dari berkata-kata demikian. Hanya engkau saja yang tidak bersetuju dari apa yang sudah kami setujui bersama !
Mendengar sanggahan sekeras ini, dengan sabar anak yang saleh itu berkata pula: Sebelum menyanggah kata-kataku yang benar ini, lebih baik kamu bersabar dan berfikir tenang terlebih dahulu. Kalau masih juga belum dapat bersabar dan tenang hatimu, kuanjurkan agar kita sekalian lebih dahulu bersembahyang, kerana sembahyang itu adalah ubat ketenangan dan kesabaran batin !
Ajakan ini tidak mereka jawab, yang ertinya mereka tidak mahu menerimanya samasekali.
Matahari sudah mulai turun dan hari pun menjelang malam. Di waktu senjakala yang lengang dan sepi itu, mereka kembali berapat dan musyawarah lagi.
Yang mereka muafakatkan ialah bagaimana caranya mereka dapat memungut hasil kebun itu dengan tidak setahu fakir miskin dan orang banyak, agar semua fakir miskin jangan sampai turut dan tidak usah mendapat bahagiannya. Hasil dari permusyawaratan itu, ialah mereka akan memetik segala hasil kebun itu di pagi buta, sebelum terbitnya matahari dan sebelum orang-orang di sekitarnya bangun dari tidurnya. Semua hasil itu akan mereka bagikan untuk mereka saja.
Mereka menetapkan, bahawa esok hari sebelum matahari terbit, semua hasil kebun itu sudah berada dalam gudangnya masing-masing dengan pasti, tanpa ragu-ragu dan tanpa insya Allah lagi.
Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui atas segala pembicaraan dan putusan yang mereka ambil itu. Di malam itu juga dikirim Allah bala besar kepada kebun itu, sehingga seluruh tanaman dan buahnya kering, gugur dan hancur di atas tanah, sehingga tidak ada barang sebiji pun yang dapat diambil hasilnya.
Pagi-pagi benar mereka itu bangun dari tidurnya. Dengan diam-diam mereka menuju ke kebun dengan membawa sabit dan keranjang-keranjang buah. Setelah tiba di pagar kebun, mereka melihat apa yang sudah terjadi dengan kebun serta tanamannya. Kesemuanya sudah kering, gugur, menjadi hancur dan busuk, serta menjadi satu dengan tanah.
Kata mereka: "Petang kemarin kita lihat kebun ini masih menghijau subur, tidak kurang air yang mengalir di antara tanaman-tanaman yang sedang berbuah lebat dan sudah matang-matang itu. Kenapa sekarang jadi begini? Barangkali ini bukan kebun kita. mungkin kita salah jalan, kerana hari masih gelap.
Berkata pula anak yang saleh: "Ah, ini memang benar kebun kita sendiri, nyata sekali yang ini adalah kebun kita, Allah rupanya telah menghukum kita, kerana kamu telah membuat rencana yang salah. Bukankah sudah kuterangkan dan diamanatkan pula oleh bapa kita sendiri, bahawa semua itu mudah saja bagi Allah? Allah tidak rela nikmat dan pemberianNya itu diperkosa oleh orang-orang yang berdosa dan aniaya.
Barulah mereka insaf, lalu hadap-menghadapi, salah-menyalahkan satu sama lain dan akhirnya mereka mengeluh: "Maha Suci Allah, kami mengaku bahawa kami sudah aniaya. Ya, kiranya kami sudah derhaka, kami berjanji akan tunduk pada aturan Tuhan kami.
Sesal yang sudah terlambat. Sesal kemudian yang tidak berguna. Ini baru siksaan dunia bagi mereka. Di akhirat nanti, untuk mereka disediakan lagi azab dan siksa yang lebih kejam dari itu.
Dengan kerajinannya yang ditumpahkan terhadap kebunnya itu, maka tidaklah hairan bila kebun itu sangat baik dan teratur, subur tanamannya, serta banyak sekali buah-buahan yang dihasilkan setiap tahunnya.
Semua orang senang melihat kebun itu. Malah disanalah mereka sering melepaskan lelah dan bersenang-senang, sambil menghirup hawa sejuk pada waktu pagi mahupun petang, apalagi bila sedang teriknya panas matahari orang-orang sama berteduh di bawah pohon-pohon kayu yang terdapat dalam kebun itu, sambil melepaskan pemandangan yang indah di sekitarnya.
Setelah orang tua itu selesai menilik dan memelihara kebunnya, iaitu memeriksa buahnya yang masih putik dan yang sudah matang, melihat kembang-kembangnya yang masih kuncup dan yang sudah merkah. Setelah dia mendengar bunyi burung-burung yang juga sama merasa bahagia tinggal dalam kebun itu, baru dia pulang ke rumahnya, lalu bersembahyang dan bersujud syukur terhadap Allah yang telah memberikan nikmat yang demikian berharga kepadanya dan dia bermohon ke hadhrat Allah agar dipelihara oleh Allah dari segala dosa yang mungkin timbul dari kekayaan yang ada padanya, minta agar dia dijauhkan Tuhan dari fitnah kesenangan dunia, serta pengaruh syaitan dan hawa nafsu.
Demikianlah cara hidupnya orang tua itu, sejak waktu mudanya sampai menjadi tua seperti sekarang ini. Begitu adanya di waktu pagi dan petang, di waktu malam berganti siang. Dan bila waktu memetik buah dari kebunnya itu sudah datang, dipanggilnyalah tukang-tukang kebun dan orang-orang pekerjanya untuk bekerja menyediakan sabit dan keranjang, dipanggilnya pula segala kaum fakir miskin untuk menolong. Setelah selesai dari memetik buah hasil perkebunannya itu, mereka masing-masing diberinya upah menurut hasil tenaga mereka masing-masing. Diberi pula sewa sabit dan keranjang yang mereka bawa. Kemudian, bila hasil itu sampai nisabnya semua fakir miskin itu dipanggil untuk menerima bahagian mereka masing-masing, sebagai zakat dari hasil bumi itu.
Demikianlah halnya saban tahun, sehingga dengan kebun yang besar dan luas kepunyaan orang tua itu dapatlah semua orang yang tidak berpunya di sekitar kampung itu ikut serta mengecap hasilnnya, sehingga mereka tidak khuatir atas kemiskinan mereka dan tidak dengki atas kekayaan orang tua itu.
Tetapi anak-anak dari orang tua itu yang sekarang ini sudah agak besar-besar, berakal dan berfikir pula, maka adat kebiasaan orang tua yang sebaik itu dibantah dan disanggah mereka, tidak suka kalau hasil kebunnya itu dibagi-bagikan kepada orang fakir miskin begitu rupa saban tahun.
Salah seorang dari anak-anaknya itu berkata: Bapaku, bila saban orang yang miskin diberi, tiap orang yang minta-minta dikasih begitu rupa, maka itu bererti bahawa bapa sudah mengurangi hak-hak kami kerana makin sedikit hasil yang kami peroleh dari kebun kita itu. Berkata pula seorang lainnya: Hai bapa, kalau terus-menerus begitu, akhirnya habislah semua kekayaan kita dan hasil perkebunan kita ini, sepeninggal bapak nanti, kami ini semua pasti melarat dan terpaksa mengemis kepada orang lain.
Mendengar segala sanggahan itu, tampil pula anak yang ketiga, Dengan segala keterangan dan kesabaran anak yang tinggi mutunya ini lalu berkata: Semua yang kamu ucapkan itu adalah berdasarkan fikiran yang salah semata, berdasarkan perhitungan manusia yang membelok dari kebenaran dan hanya dengan sangkaan-sangkaan belaka. Kamu tidak tahu akan apa yang sebenarnya harta kekayaan dunia itu. Harta itu bukan hanya harta kepunyaan saya dan kepunyaanmu saja. Kebun kita yang luas itu, bukan hanya kebun kita. Tetapi adalah harta dan kebun Allah, yang diamanatkan Allah kepada kita untuk menyelenggarakannya, dengan perjanjian dan aturan Allah, bahawa semua hasilnya itu dipergunakan sebaik-baiknya kepada yang lebih memberi manfaat, dengan tidak boleh melupakan hak orang-orang fakir dan miskin, orang yang terlantar dan kekurangan syarat hidup atau dalam perjalanan. Sebahagian lagi untuk burung-burung yang datang ke dalam kebun ini. Burung-burung itupun mempunyai hak, kerana ada pula jerih dan jasanya terhadap kebun itu. Sebab itu janganlah hak-hak orang fakir dan miskin itu dihalang-halangi dan disanggah. Salah benar perbuatan kita bila menyanggah aturan Allah.
Bapa mereka yang sudah tua dan tidak berdaya lagi itupun turut bernasihat: Aku sudah tua, kekuatanku sudah habis, tulang-belulangku sudah terasa kaku dan aku tidak lama lagi akan pergi meninggalkan kamu sekalian. Nasihat dan fatwaku yang penghabisan, ialah agar kamu sekalian yang menerima kebun itu sebagai pusaka dariku, pandai-pandailah mempergunakan nikmat dan pemberian Allah itu. Dua kalimat sebagai amanatku hendaklah kamu tanamkan dalam ingatanmu, jangan sampai dilupakan dan dilanggar: Bila kamu dapat mempergunakan nikmat itu dengan baik, sepanjang aturan Allah akan menambah nikmatNya atas kamu sekalian. Tetapi bila kamu bakhil dan mempergunakan nikmat itu dengan cara yang salah, Tuhan tentu akan kuasa mencabut nikmatNya itu dengan sekaligus. Kamu sekalian tidak akan luput dari tinjauan Allah atas segala perbuatanmu, Dari itu hendaklah kamu berhati-hati.
Tidak lama kemudian, orang tua yang baik itupun meninggal dunia, semua kekayaan dan kebun itu menjadi hak anak-anaknya itu, sebagai pusaka.
Hari berganti bulan, semua tanaman-tanaman dari kebun itu dengan buah-buahannya yang lebat dan subur, semakin mendekati hari untuk dipetik hasilnya. Musim yang sekarang ini lebih baik dari musim musim sebelumnya, berkat nikmat dan pemberian Allah terhadap anak-anak itu. Datanglah masanya untuk memetik segala hasilnya.
Di kala itupun mereka berkumpul. Yang terbesar di antara mereka mulai berkata dalam pertemuan itu: Mulai saat ini tidak ada hak lagi bagi fakir miskin dan orang-orang yang mengemis atas hasil kebun kita ini. Semua hasil itu akan kita bagi sama banyak antara kita saja, juga merdeka untuk mempergunakan bagian kita masing-masing, menurut kehendaknya masing-masing pula, baik untuk disimpan mahupun ditukarkan. Tetapi kalau bahagian itu kita simpan bersama-sama dan tidak disedekahkan kepada siapapun juga, pasti kita akan semakin kayaraya dan harta kita akan selalu bertambah banyak.
Anak yang saleh antara anak-anak itupun lalu menjawab: "Engkau merencanakan sebuah rencana yang baik menurut fikiranmu, tetapi yang sebenarnya salah dan pasti membawa keburukan dalam
masyarakat ini. Rencana yang engkau kira akan membawa manfaat itu, sebenarnya akan menimbulkan siksa dan bencana saja. Cuba, kalau hak fakir miskin itu kamu sanggah dan kamu langgar, akan timbullah perasaan hasad dan dengki dikalbu mereka, Akhirnya kita tidak akan merasakan keamanan lagi dalam hidup kita, sebab mungkin mereka akan memberontak terhadap kita. Sebab itu, janganlah rencanamu itu dijalankan dan mari kita kembali kepada rencana yang sudah diamanatkan almarhum bapa kita sendiri, dengan cara memberikan haknya fakir miskin, dengan tidak menguranginya sedikit juga. Sesudah hak mereka kita keluarkan, maka yang tinggal itu adalah hak kita, hak yang diredhai Allah dan akan penuh dengan berkat.
Mendengar pendapat anak yang saleh ini, mereka sama berteriak dengan suara keras menyanggahkan: "Jangan kau kemukakan rencanamu itu, berhentilah kamu dari berkata-kata demikian. Hanya engkau saja yang tidak bersetuju dari apa yang sudah kami setujui bersama !
Mendengar sanggahan sekeras ini, dengan sabar anak yang saleh itu berkata pula: Sebelum menyanggah kata-kataku yang benar ini, lebih baik kamu bersabar dan berfikir tenang terlebih dahulu. Kalau masih juga belum dapat bersabar dan tenang hatimu, kuanjurkan agar kita sekalian lebih dahulu bersembahyang, kerana sembahyang itu adalah ubat ketenangan dan kesabaran batin !
Ajakan ini tidak mereka jawab, yang ertinya mereka tidak mahu menerimanya samasekali.
Matahari sudah mulai turun dan hari pun menjelang malam. Di waktu senjakala yang lengang dan sepi itu, mereka kembali berapat dan musyawarah lagi.
Yang mereka muafakatkan ialah bagaimana caranya mereka dapat memungut hasil kebun itu dengan tidak setahu fakir miskin dan orang banyak, agar semua fakir miskin jangan sampai turut dan tidak usah mendapat bahagiannya. Hasil dari permusyawaratan itu, ialah mereka akan memetik segala hasil kebun itu di pagi buta, sebelum terbitnya matahari dan sebelum orang-orang di sekitarnya bangun dari tidurnya. Semua hasil itu akan mereka bagikan untuk mereka saja.
Mereka menetapkan, bahawa esok hari sebelum matahari terbit, semua hasil kebun itu sudah berada dalam gudangnya masing-masing dengan pasti, tanpa ragu-ragu dan tanpa insya Allah lagi.
Tuhan Maha Mendengar dan Maha Mengetahui atas segala pembicaraan dan putusan yang mereka ambil itu. Di malam itu juga dikirim Allah bala besar kepada kebun itu, sehingga seluruh tanaman dan buahnya kering, gugur dan hancur di atas tanah, sehingga tidak ada barang sebiji pun yang dapat diambil hasilnya.
Pagi-pagi benar mereka itu bangun dari tidurnya. Dengan diam-diam mereka menuju ke kebun dengan membawa sabit dan keranjang-keranjang buah. Setelah tiba di pagar kebun, mereka melihat apa yang sudah terjadi dengan kebun serta tanamannya. Kesemuanya sudah kering, gugur, menjadi hancur dan busuk, serta menjadi satu dengan tanah.
Kata mereka: "Petang kemarin kita lihat kebun ini masih menghijau subur, tidak kurang air yang mengalir di antara tanaman-tanaman yang sedang berbuah lebat dan sudah matang-matang itu. Kenapa sekarang jadi begini? Barangkali ini bukan kebun kita. mungkin kita salah jalan, kerana hari masih gelap.
Berkata pula anak yang saleh: "Ah, ini memang benar kebun kita sendiri, nyata sekali yang ini adalah kebun kita, Allah rupanya telah menghukum kita, kerana kamu telah membuat rencana yang salah. Bukankah sudah kuterangkan dan diamanatkan pula oleh bapa kita sendiri, bahawa semua itu mudah saja bagi Allah? Allah tidak rela nikmat dan pemberianNya itu diperkosa oleh orang-orang yang berdosa dan aniaya.
Barulah mereka insaf, lalu hadap-menghadapi, salah-menyalahkan satu sama lain dan akhirnya mereka mengeluh: "Maha Suci Allah, kami mengaku bahawa kami sudah aniaya. Ya, kiranya kami sudah derhaka, kami berjanji akan tunduk pada aturan Tuhan kami.
Sesal yang sudah terlambat. Sesal kemudian yang tidak berguna. Ini baru siksaan dunia bagi mereka. Di akhirat nanti, untuk mereka disediakan lagi azab dan siksa yang lebih kejam dari itu.
No comments:
Post a Comment